1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Berapa Biaya untuk Membangun Kembali Ukraina?

25 Oktober 2022

Ketika infrastruktur energi Ukraina luluh lantak akibat serangan Rusia, dua pertemuan di Berlin berusaha merekonstruksi negara itu. Jerman mengusulkan Rencana Marshall untuk Kyiv, tetapi siapa yang akan membiayai?

https://p.dw.com/p/4IblW
Serangan drone di Kyiv, Ukraina
Ukraina luluh lantak diserang Rusia, bagaimnana membangun kembali negara yang hancur akibat perang ini?Foto: NurPhoto/IMAGO

Tepat delapan bulan sejak tank Rusia pertama kali meluncur ke Ukraina, pasukan Moskow mengintensifkan serangan mereka terhadap infrastruktur energi tetangganya itu.

Rudal dan drone Rusia juga menghujani kota-kota di Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv, sebagai pembalasan atas serangan balik militer Ukraina baru-baru ini.

Ketika Moskow meningkatkan skala konflik, negara Jerman ada minggu ini menjadi tuan rumah dua pertemuan puncak di Berlin yang bertujuan membantu Ukraina dengan cepat membangun kembali infrastruktur pentingnya dan memastikan pemulihan negara itu pascaperang.

Pertemuan pertama, yang berlangsung pada hari Senin (24/10), menjadi forum ekonomi Jerman-Ukraina; sedangkan yang kedua, pada hari Selasa( 25/10), adalah konferensi pemulihan Ukraina yang diselenggarakan oleh pemerintah Jerman dalam perannya sebagai pemegang rotasi kepemimpinan G7 dan Komisi Eropa saat ini.

Jerman bersikukuh bahwa pertemuan hari Selasa adalah pertemuan puncak para ahli, bukan konferensi donor. Perwakilan dari kekuatan ekonomi terkemuka G7 dan G20 diharapkan hadir bersama organisasi internasional, masyarakat sipil, dan pemimpin bisnis.

Tagihan perang menumpuk dari hari ke hari

Sementara itu, biaya besar untuk mendukung Ukraina melawan pasukan Rusia berlipat ganda dari hari ke hari. Setidaknya sepertiga dari pinjaman dan hibah yang ada dan yang dijanjikan oleh seluruh dunia digunakan untuk menutup defisit bulanan yang mencapai sekitar 4 miliar euro (3,94 miliar dolar AS) dalam anggaran pemerintah Ukraina.

Uni Eropa, bersama dengan Amerika Serikat dan negara-negara lain, termasuk Inggris dan Kanada, telah bersama-sama berkomitmen mengucurkan dana 93 miliar euro dalam bentuk senjata, pinjaman, dan bantuan kemanusiaan kepada pemerintahan di  Kyiv antara Februari dan awal Oktober, demikian menurut penghitungan oleh Institut Kiel untuk Ekonomi Dunia.

Dengan perkiraan kontraksi 30-35% dalam produk domestik bruto tahun ini saja, Ukraina sudah kewalahan untuk membayar ongkos perang,. Bayangkan jika harus memenuhi komitmen utang yang ada atau membiayai rekonstruksi sendiri.

Rencana Marshall Baru yang disebut-sebut

Ketika keuangan Kyiv memburuk, Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen telah mengusulkan Rencana Marshall baru untuk Ukraina. Istilah tersebut mengacu pada program bernilai miliaran dolar AS yang dirancang oleh  pemerintahan di Washington setelah Perang Dunia II untuk membantu membangun kembali Eropa.

Dalam artikel bersama untuk surat kabar Frankfurter Allgemeine Zeitung yang diterbitkan Senin (24/10), keduanya mengatakan upaya "generasional" untuk membangun kembali Ukraina harus segera dimulai. "Kita harus mulai membangun bangunan tempat tinggal, sekolah, jalan, jembatan - infrastruktur yang hancur dan membangun kembali fasilitas energinya, sehingga negara itu dapat bangkit kembali dengan cepat," papar kedua pemimpin Eropa itu.

"Bentuk rekonstruksi ini akan menentukan seperti apa Ukraina di masa depan. Apakah menjadi negara konstitusional dengan institusi yang kuat? Atau negara yang ekonominya tumbuh lincah dan modern? Negara dengan sistem demokrasi yang dinamis seperti Eropa?"

Dalam podcast videonya pada hari Sabtu (22/10), Scholz mengatakan masyarakat internasional perlu membuat komitmen besar untuk rekonstruksi Ukraina agar "bisa berjalan dengan baik" dan mengatakan negara-negara lain perlu menjanjikan dukungan keuangan "bertahun-tahun" atau bahkan "puluhan tahun."

Kerusakan Rusia diperkirakan mencapai 750 miliar dolar AS

Perdana Menteri Ukraina Denis Schmyhal mengatakan kepada Frankfurter Allgemeine Zeitung pada hari Minggu (23/10) kemarin,  bahwa kerusakan yang disebabkan oleh invasi Rusia telah mencapai "lebih dari 750 miliar dollar AS.”

Pada bulan Agustus lalu, Bank Dunia, Komisi Eropa dan pemerintah Ukraina menghitung kerugian agregat di negara itu pada tanggal 1 Juni lalu, sudah  lebih dari 252 miliar dolar AS, dengan perkiraan kebutuhan rekonstruksi dan pemulihan sebesar 348,5 miliar dolar AS.

Tapi hitungan itu dibuat sebelum Rusia meningkatkan skala konfliknya yang menargetkan fasilitas pembangkit listrik dan kota-kota di Ukraina.

Sebuah kolom opini yang diterbitkan di The Washington Post akhir pekan ini memperkirakan tagihan biaya rekontrusksi itu bahkan bisa mencapai satu triliun dollar AS.

PM Ukraina, Schmyhal menyerukan penggunaan dana sekitar 300-500 miliar dolar AS yang merupakan aset Rusia yang dibekukan Barat sebagai pembalasan atas peluncuran perang, agar dapat digunakan untuk rekonstruksi."Kita harus mengembangkan mekanisme untuk menyita aset Rusia," desaknya.

Kesengsaraan anggaran donor, transparansi akan menentukan respons

Negara-negara donor harus bergulat dengan prospek komitmen keuangan yang besar ke Kyiv, sementara banyak negara yang berurusan dengan tingkat utang mereka sendiri yang tinggi, inflasi yang melonjak dan pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Pada saat yang  bersamaan, mereka akan menuntut jaminan dari Kyiv bahwa dana tersebut akan digunakan sesuai tujuannya, mengingat organisasi Transparency International telah menempatkan Ukraina sebagai negara paling korup ketiga di Eropa setelah Rusia dan Azerbaijan.

Editorial The Washington Post merinci bagaimana ratusan juta dolar bantuan asing telah disedot dalam beberapa tahun terakhir oleh oligarki Ukraina, dengan menggambarkan bagaimana pemerintah terlibat dalam mengizinkan mereka menggunakan perusahaan milik negara Ukraina laksana Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

UE harus mengatasi defisit donasi

Kekhawatiran akan terjadinya korupsi dapat menjelaskan keragu-raguan Uni Eropa dalam melakukan dan menyebarkan dana ke pemerintah Kyiv sampai sekarang, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS), seperti dicatat oleh Kiel's Ukraine Support Tracker.

"AS sekarang berkomitmen hampir dua kali lipat dari gabungan semua negara dan institusi UE," tulis Christoph Trebesch, kepala tim yang menyusun penghitungan bantuan.

"Ini adalah pertunjukan kecil bagi negara-negara Eropa yang lebih besar, terutama karena banyak dari janji mereka, baru ada di Ukraina setelah penundaan yang lama. Rendahnya volume komitmen baru di musim panas sekarang tampaknya berlanjut secara sistematis."

Guy Verhofstadt, seorang anggota parlemen Eropa, juga mengecam respons UE di Twitter pekan lalu, dengan mengatakan "Eropa lambat untuk berkomitmen dan bahkan lebih lambat lagi untuk mewujudkannya," ujarnya seraya melabeli kebijakan itu sebagai "amatirisme politik dan kegilaan geopolitik."

Para pemimpin Eropa akan belajar dari kesalahan upaya pembangunan kembali pascaperang dari pengalaman sebelumnya, termasuk di Afghanistan, Irak dan Bosnia. Mereka kemungkinan akan bersikeras bahwa Ukraina  harus menunjukkan rencana konkret dalam memperbaiki supremasi hukum dan reformasi peradilan yang diperlukan, guna memberantas korupsi, sebelum dikucurkan dengan miliaran dana rekonstruksi. (ap/vlz)

Nik Martin Penulis berita aktual dan berita bisnis, kerap menjadi reporter radio saat bepergian keliling Eropa.