1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Iran Eksekusi Mati Pemrotes Anti-Rezim

8 Desember 2022

Iran hari Kamis (8/12) mengumumkan telah mengeksekusi seorang pria yang ditangkap selama protes anti-rezim yang mengguncang negara itu selama beberapa bulan. Nasib serupa bisa terjadi pada pemrotes lain.

https://p.dw.com/p/4KeXB
Eksekusi mati dengan hukuman gantung di depan umum di Teheran
Eksekusi mati dengan hukuman gantung di depan umum di Teheran. Foto arsip tahun 2007Foto: Abedin Taherkenareh/EPA/picture-alliance/dpa

Pengunjuk rasa, yang diidentifikasi sebagai Mohsen Shekari oleh kantor berita Iran, disebut-sebut sebagai orang pertama yang dieksekusi oleh rezim Iran sehubungan dengan protes nasional setelah kematian Jina Mahsa Amini. Selain dia, ada lima orang lain yang dieksekusi. Kalangan aktivis memperingatkan, orang lain bisa menghadapi nasib serupa.

Mohsen Shekari ditangkap karena memblokir Sattar Khan Boulevard di Teheran dan melukai seorang penjaga keamanan dengan parang pada 25 September 2022. Pada 1 November dijatuhi hukuman mati di bawah hukum syariah Iran karena "melancarkan perang melawan Allah". Putusan itu dikuatkan oleh Mahkamah Agung pada 20 November lalu, meskipun ada pengajuan banding.

Lima orang lainnya dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung pada hari Selasa (6/12) karena membunuh seorang anggota milisi Basiji Iran.

Para pengunjuk rasa pertama kali turun ke jalan setelah kematian Jina Mahsa Amini, perempuan berusia 22 tahun, saat dalam tahanan. Dia ditangkap oleh polisi moral Iran 13 September lalu karena dianggap tidak mengenakan jilbabnya secara benar. Beberapa jam kemudian dia dinyatakan meninggal dunia.

Aksi solidaritas di Den Haag untuk gerakan protes di Iran
Aksi solidaritas di Den Haag (7 Desember 2022) untuk gerakan protes di IranFoto: Bart Maat/ANP/picture alliance

Amnesty: "Lebih banyak eksekusi” akan terjadi

Organisasi hak asasi Amnesty International mengatakan, setidaknya 21 orang menghadapi hukuman mati menyusul apa yang mereka sebut sebagai "pengadilan palsu yang dirancang untuk mengintimidasi” mereka yang berpartisipasi dalam protes massal yang telah mengguncang Iran.

"Otoritas Iran harus segera membatalkan semua hukuman mati, menahan diri dari upaya pengenaan hukuman mati, dan mencabut semua tuduhan terhadap mereka yang ditangkap sehubungan dengan partisipasi damai mereka dalam protes," kata Amnesty International.

Direktur organisasi Iran Human Rights yang berbasis di Oslo, Mahmood Amiry-Moghaddam, menyerukan "konsekuensi praktis yang cepat secara internasional" terhadap eksekusi mati itu untuk mencegah kemungkinan "eksekusi tahanan setiap hari."

Aksi protes massal berbulan-bulan

Aksi protes massal yang telah berlangsung berbulan-bulan telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi Republik Islam Iran sejak revolusi Islam tahun 1979 yang membawa Ayatollah Khomeini ke tampuk kekuasaan.

Demonstrasi itu dimulai di wilayah barat Kurdistan, wilayah asal Jina Mahsa Amini, tetapi menyebar dengan cepat ke seluruh negeri.

Perempuan telah memainkan peran kunci dalam protes anti-rezim itu, dengan banyak video yang dibagikan di media sosial memperlihatkan para pemrotes perempuan melepas jilbab mereka di depan umum.

Pihak berwenang menyalahkan "campur tangan asing” dan menindak keras aksi protes, juga dengan menggunakan peluru tajam. Kelompok-kelompok hak asasi yang berbasis di luar negeri memperkirakan jumlah orang yang tewas dalam bentrokan dengan aparat keamanan mencapai hampir 500 orang.

hp/yf (afp, rtr, ap)