1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Yunani Bermain Api

30 Desember 2014

Yunani gagal memilih presiden baru di saat masih dilanda krisis ekonomi dan keuangan cukup parah. Menghadapi pemilu parlemen yang dipercepat akhir Januari 2015, negara itu kini terperosok dalam krisis politik berat.

https://p.dw.com/p/1ED93
Griechenland Krise Symbolbild
Foto: Reuters

Haluan penghematan ketat dan reformasi berat yang diterapkan troika Komisi Uni Eropa, Dana Moneter Internasional dan Bank Sentral Eropa menyebabkan warga di Yunani menderita. Tidak mengherankan, jika menghadapi pemilu parlemen yang dipercepat bulan Januari mendatang, banyak warga beralih ke aliansi partai kiri Syriza. Tapi jika partai ini menang, Yunani ibaratnya bermain api dalam pemulihan ekonominya. Demikian senadanya sorotan harian-harian internasional menanggapi situasi aktual di Yunani.

Harian Swiss Neue Zürcher Zeitung yang terbit di Zürich berkomentar: Barang siapa hidup di tengah kawasan Eropa yang kaya, terjamin, aman dan teratur, tidak bisa membayangkan apa artinya jika pendapatan menyusut hingga tinggal sepertiganya. Itulah yang dialami warga Yunani dalam beberapa tahun terakhir, akibat program penghematan ketat Troika Eropa. Tapi, juga jika aliansi partai kiri Syriza, di bawah Alexis Tsipras nanti memenangkan pemilu, hal itu bukan berati ia akan menihilkan kembali hasil reformasi yang sudah dicapai. Tsipras boleh saja bermain api, dengan melontarkan kritikan dan sindiran kepada mitranya anggota Uni Eropa yang jadi donor Yunani. Tapi semua juga mengetahui, Tsipras tidak akan menolak bantuan uang.

Harian Belanda de Volkskrant yang terbit di Amsterdam dalam tajuknya berkomentar: Yunani boleh beranggapan, telah melakukan cara yang benar untuk pemulihan ekonominya. Tapi realitanya, kebanyakan warganya tidak merasakan hal itu. Dua pertiga dari seluruh penganggur tergolong sudah lama tidak punya kerja. Dan pendapatan warga dalam lima tahun terakhir menyusut tinggal sepertiganya. Jadi bisa dimengerti jika dukungan terhadap partai politik berhaluan tengah juga turun tajam. Banyak warga yang sudah lama menderita, kini bersimpati pada partai yang menawarkan program pembebasan dari reformasi ketat Uni Eropa. Mereka tidak peduli, jika nanti dampak jangka panjangnya juga makin menyengsarakan.

Harian Perancis La Croix yang terbit di Paris juga menulis komentar bernada serupa. Pemilu parlemen yang dipercepat kemungkinan dimenangkan aliansi kiri dari Alexis Tsipras. Dipertanyakan, apakah negara ini akan menetapkan haluan eksperimen politik baru yang dampak jangka panjangnya belum jelas? Bagaimana ia bisa mengubah programnya? Yang jelas Uni Eropa harus bereaksi menahan diri, tanpa dramatisasi berlebihan. Sudah diketahui, di Eropa semua akan ikut terlanda nasib di negara tetangganya. Inilah kekuatan sekaligus kelemahan Uni Eropa.

Sementara harian Austria die Presse yang terbit di Wina menulis komentar tajam terkait ketidak mampuan Yunani mengatasi krisis. Pemerintah Yunani bertahun-tahun lamanya menutupi ekonominya yang tidak mampu bersaing dengan utang luar negeri. Banyak pejabat memperlakukan negara seperti toko swalayan, yang barang dan kekayaannya dapat diambil tanpa perlu membayar. Tapi di dalam Uni Eropa, perilaku semacam itu tidak hanya ada di Yunani saja. Banyak negara anggota menjalankan praktik serupa. Sekarang, tragedi Yunani hendaknya memberikan efek katarsis atau pembersihan bagi semua.

as/ml (dpa,afp)