1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Warga Palestina Mengungsi Dari Suriah ke Libanon

Mona Naggar13 Februari 2013

Para pengungsi Palestina yang tinggal di Suriah sekarang harus mengungsi lagi. Mereka lari dari Suriah ke Libanon. Badan bantuan pengungsi UNRWA yang mengurus mereka mulai kewalahan.

https://p.dw.com/p/17dWV
Keluarga Wajdi di Shatila, Beirut
Keluarga Wajdi di Shatila, BeirutFoto: Mona Naggar

Satu kamar, sebuah dapur kecil dan satu kamar mandi, itulah hunian baru Um Wajdi dan keluarganya. Cat dinding di bagian atapnya mulai lepas. Di lantai ada karpet abu-abu dan kasur tipis dari karet busa. Sejak awal Januari, Um Wajdi yang berusia 43 tahun tinggal di rumah ini bersama suaminya, Abu Wajdi dan dua anak lelakinya. Anak yang tua berusia 15 tahun dan yang bungsu 12 tahun. Mereka tinggal di kamp penampungan pengungsi Shatila di kota Beirut, Libanon.

Um Wajdi dan keluarganya sebelumnya tinggal di Yarmouk, penampungan pengungsi Palestina yang terbesar di Suriah. Tapi rumah mereka sudah tidak ada lagi. Sejak berbulan-bulan Yarmouk menjadi kawasan pertempuran antara tentara pemerintah Suriah dan kaum pemberontak. Yarmouk terletak di selatan kota Damaskus. Sebagian kawasan Yarmouk sudah hancur. Rumah keluarga Um Wajdi ada di kawasan yang hancur.

Biaya Hidup Sangat Tinggi

Wanita berbadan ramping dengan rambut hitam yang panjang itu mengatakan, yang penting sekarang adalah mendapat makanan yang cukup untuk kedua anaknya. Mereka juga perlu memanasi ruangan selama musim dingin. Selain itu, dia perlu obat untuk anak bungsunya yang menderita penyakit kelainan darah. Di Suriah lebih mudah mendapatkan obat-obat-an. Harganya juga jauh lebih murah, demikian cerita Um Wajdi.

Ketika tiba di tempat penampungan pengungsi Shatila di Beirut, para pengungsi mendapat pembagian peralatan rumah sederhana dan sedikit bahan makanan. Penampungan pengungsi itu dikelola oleh Komite Rakyat Shatila. Mereka membagikan bantuan yang didapat dari Palang Merah Internasional. Badan bantuan PBB untuk pengungsi Palestina, UNRWA, memberi uang 40 dollar kepada setiap pengungsi yang datang dan membagikan kartu bahan makanan. Abu Wajdi mengatakan, bantuan ini tidak cukup untuk keperluan sehari-hari.

Jalan masuk ke penampungann pengungsi Shatila
Jalan masuk ke penampungann pengungsi ShatilaFoto: Mona Naggar

”Harga sewa rumah ini saja setiap bulan 220 dollar. Di Yarmouk, dengan uang sebanyak ini kita bisa tinggal di sebuah gedung besar, lengkap dengan makanan dan minuman” tutur Abu Wajdi. Selain sewa rumah, ia masih harus membayar biaya listrik setiap bulan sekitar 40 dollar. Mereka juga masih harus membayar ijin tinggal di Libanon. Jadi untuk bertahan hidup, dia harus mengemis pada teman-temannya.

Dibayangi Rasa Putus Asa

Abu Wajdi sebelumnya bekerja sebagai direktur seni di sebuah kempok kesenian rakyat Palestina. Sekarang dia kelihatan putus asa. Bahkan organisasi pembebasan Palestina, PLO, tidak memberi bantuan, karena organisasi itu sendiri sedang bangkrut, kata Abu Wajdi. Di Libanon, tidak banyak profesi yang bisa dijalani warga Palestina karena ada aturan yang ketat.

Perang di Suriah telah membuat warga Palestina dari Yarmouk menjadi pengungsi ganda. Kakek dan nenek Abu Wajdi berasal dari Nazareth yang sekarang terletak di Israel utara. Pada tahun 1948, ketika negara Israel terbentuk, mereka lari dari kampung halamannya dan mengungsi ke Suriah. Sekarang, cucu mereka kembali menjadi pengungsi.

Menurut keterangan UNRWA, pada beberapa minggu terakhir sedikitnya 20.000 warga Palestina dari Suriah melarikan diri ke Libanon. UNRWA memperkirakan, jumlah pengungsi masih akan terus bertambah. Kebanyakan pengungsi dari Suriah ini tinggal dengan saudaranya atau dengan temannya yang berada di Libanon. Abu Wajdi memutuskan untuk tinggal di Shatila karena banyak temannya tinggal di sini.

Harga Sewa Rumah Naik

Penampungan pengungsi Shatila adalah kawasan paling padat dan paling miskin di kota Beirut. Ziad Hemmo dari Komite Rakyat Shatila menerangkan, penampungan ini sebenarnya sudah mencapai batas kapasitasnya dan tidak mampu lagi menampung lebih banyak orang. Tapi penduduk yang tinggal di sana tetap saja menerima kerabat atau temannya yang datang. Ada juga penduduk yang malah memanfaatkan kesulitan para pengungsi dan menaikkan harga sewa rumah. Menurut Hemmo, para pengungsi Palestina yang datang dari Suriah memang harus mendapat bantuan keuangan.

”Masalah terbesar adalah harga sewa rumah. Belum ada organisasi yang memikirkan masalah ini. Kami sejak dulu menuntut, masalah ini harus diselesaikan, Tapi belum ada reaksi.” Para pengungsi juga harus mendapat bantuan rutin berupa susu untuk anak-anak, behan makanan dan pakaian. Jatah yang dibagikan setiap bulan atau setiap dua bulan hanya satu kantong beras dan gula. Ini tidak cukup, kata Hemmo.

UNRWA yang bertugas untuk memasok bantuan bagi para pengungsi Palestina yang datang dari Suriah mengaku kewalahan dengan banyaknya jumlah pengungsi. Hoda Samra dari UNRWA menerangkan, bantuan yang disalurkan sampai saat ini memang masih belum cukup. Sumbangan yang masuk masih terlalu sedikit. Bulan Desember lalu, UNRWA meminta dana tambahan 13 juta dollar kepada PBB untuk membantu para pengungsi dari Suriah yang lari ke Libanon. Tapi kelihatannya tidak akan ada dana tambahan. Sebab bulan September lalu, UNRWA juga sudah mengajukan permohonan bantuan, tapi tidak ada sambutan.

Hoda Samra, jurubicara UNRWA di Beirut
Hoda Samra, jurubicara UNRWA di BeirutFoto: Mona Naggar

Menurut Hoda Samra, para pengungsi Palestina akan kembali lagi ke Suriah, jika situasi politik mengijinkan. Tapi Abu Wajdi mengatakan, hal itu hampir tidak mungkin. Sebab warga Palestina yang ada di Suriah hanya akan terjepit di tengah pertikaian antara rejim dan kelompok oposisi. ”Kedua pihak akan menyalahkan kami, karena tidak berpihak kepada mereka.” Dia tidak bisa membayangkan ada masa depan bagi keluarganya di Suriah.