1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tekanan Moral bagi Obama

Antje Passenheim3 Maret 2014

AS resah akibat intervensi militer Rusia di Ukraina. Dalam pembicaraan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, Obama nyatakan ancaman. Tapi apa yang bisa dilakukan AS secara kongkret?

https://p.dw.com/p/1BIVY
Presiden AS Barack Obama di Gedung Putih dalam pembicaraan telefon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (01/03).Foto: picture-alliance/dpa

Perdana Menteri Krimea Sergey Aksyonov yang pro Rusia mempertahankan langkah pengambilalihan kekuasaan atas Krimea dari Ukraina. Ia mengatakan, beberapa waktu lalu, dalam demonstrasi di ibukota Ukraina, Kiev, oposisi menyerukan rakyat untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerintah. "Sekarang rakyat sudah melakukannya," kata Aksyonov dalam wawancara dengan harian pemerintah Rusia, Rossiyskaya Gazeta. Aksyonov juga menekankan, yang berlaku di ibukota Kiev juga harus berlaku di Krimea.

Sementara itu pemerintah Ukraina pro Barat, yang dibentuk setelah jatuhnya Presiden Viktor Yanukovich menuduh Rusia menganeksasi wilayah Ukraina. Aksyonov mengatakan, tanggal 30 Maret di Krimea akan diadakan referendum yang akan menentukan masa depan semenanjung itu. Banyak pihak khawatir, referendum akan menyebabkan perpecahan Ukraina.

Unbekannte Bewaffnete vor dem Ministerrat in Simferopol 02.03.2014
Sejumlah tentara bersenjata yang tidak mengenakan tanda pengenal apapun tampak di gedung pemerintah Krimea, di Simferopol (02/03)Foto: DW/M. Bushuev

Kecaman Amerika Serikat

Berkaitan dengan perkembangan terakhir di kawasan tersebut, pembicaraan telepon selama satu setengah jam berlangsung antara Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Isinya jelas: AS mengecam intervensi militer Rusia atas wilayah Ukraina. Setelah pembicaraan itu, Gedung Putih menyatakan tidak ikut dalam persiapan menjelang pertemuan G8 yang rencananya akan diadakan di Sochi, Juni mendatang. Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper juga mengambil langkah sama.

Minggu (02/03), Menteri Luar Negeri AS, John Kerry bahkan mengancam, akan mengeluarkan Rusia dari kelompok negara-negara G8. Memang AS sekarang tidak akan mengirimkan tentara, tetapi Obama punya banyak alternatif lain. Demikian dikatakan Kerry dalam wawancara dengan ABC. Obama siap menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Kongres AS kini mempertimbangkan penjatuhan sanksi di bidang perdagangan serta investasi. Demikian halnya dengan pembekukan dana, penghentian pemberian visa dan sejumlah langkah lainnya. Namun Kerry berkali-kali menekankan, Washington ingin bekerjasama dengan Rusia dalam mencari solusi bagi Ukraina.

Proteste gegen die russische Invasion in Simferopol 02.03.2014
Demonstrasi warga Simferopol, Krimea, terhadap invasi yang dilakukan Rusia (02/03)Foto: DW/M. Bushuev

AS Tidak Ambil Tindakan Sendiri

Sementara itu, komandan pasukan AS di Eropa, Jenderal Philip Breedlove diperintahkan untuk menyerahkan secepat mungkin ke Washington, semua gambar yang diambil satelit atasan kawasan Krimea, dan hasil penyelidikan dinas rahasia tentang kemungkinan pergerakan tentara Rusia di kawasan itu.

Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel menekankan dalam wawancara dengan CBS News, AS tidak akan mengambil langkah sendiri di daerah itu. Ia menekankan, AS akan berdialog dengan sekutu-sekutunya di Eropa. Ia menegaskan juga, "Kami berusaha mengadakan perundingan diplomatis. Itu adalah langkah paling tepat dan bertanggungjawab."

Apa AS Harus Bertindak?

AS juga melancarkan tekanan terhadap Rusia di PBB dan mendukung misi Sekretaris Jenderal Ban Ki Moon. Dalam sebuah pernyataan, Ban Ki Moon menolak semua intervensi atas krisis di Ukraina.

Tetapi AS sebenarnya secara moral berkewajiban mengadakan intervensi, yaitu berdasarkan Memorandum Budapest dari tahun 1994. Ketika itu, setelah pembubaran Uni Soviet, Ukraina menyatakan bersedia menyerahkan 1.600 kepala nuklir.

Proteste gegen Russland auf dem Maidan 02.03.2014
Demonstrasi kedutaan besar negara-negara Uni Eropa terhadap Rusia di lapangan Maidan, Kiev (02/03).Foto: DW/L. Grischko

Uranium dari kepala nuklir tersebut digunakan AS di pembangkit listrik tenaga nuklirnya selama dua puluh tahun. Sebagai imbalannya, AS, Inggris dan Rusia menyatakan berkewajiban menjaga integritas Ukraina. Setelah Moskow melanggar kesepakatan itu, setidaknya AS dan Inggris secara moral wajib mengambil tindakan.

Obama Tergantung Moskow

Situasi saat ini mengingatkan orang pada krisis yang terjadi sebelumnya, misalnya yang terjadi tahun 2008, yaitu konflik antara Rusia dan Georgia. Ketika itu George W. Bush yang menjadi presiden AS mengirimkan sejumlah kapal perangnya ke kawasan tersebut. Pengamat militer memperingatkan AS untuk tidak mengambil langkah seperti itu lagi. Walaupun AS hanya mengirim tentara ke negara-negara NATO di sekitar Ukraina, itu bisa memprovokasi pemerintah di Kiev. Lagipula sejauh ini tidak jelas apakah pemerintah baru Ukraina menguasai militernya.

Selain itu, dalam sengketa nuklir Iran dan krisis Suriah, AS tergantung pada Rusia. Banyak kritikus berpendapat, sejauh ini Gedung Putih memberikan kesan tidak tahu langkah mana yang harus diambil setelah memberikan serangkaian ancaman.