1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Transisi Dengan Atau Tanpa Bashar al-Assad

4 Desember 2013

Bashar al-Assad akan tetap menjadi presiden dan memimpin proses transisi yang disepakati dalam rencana perundingan di Jenewa, demikian tegas pemerintah Suriah.

https://p.dw.com/p/1ASnM
Foto: Reuters

“Jika ada yang berpikir kami akan ke (perundingan) Jenewa 2 untuk menyerahkan kunci atas Damaskus (kepada oposisi), mereka mungkin sebaiknya tidak pergi ke sana,” kata Menteri Informasi Omran al-Zohbi melalui kantor berita milik pemerintah SANA.

“Keputusan ada di tangan Presiden Assad. Ia akan memimpin periode transisi. Ia adalah pemimpin Suriah… dan ia masih menjadi presiden Suriah.”

Zohbi juga mengatakan bahwa Arab Saudi, salah satu pendukung utama para pemberontak, harus tidak diikutsertakan dalam konferensi perdamaian, sambil menuduh kerajaan kaya itu mempersenjatai dan melatih “teroris” di Suriah.

Para pemberontak hingga kini memerangi rejim Assad dalam perang yang telah merenggut 126.000 jiwa sejak Maret 2011, dan berkeras agar presiden itu mundur sebagai bagian dari proses transisi.

Kedua belah pihak akan bertemu di Jenewa pada 22 Januari mendatang dalam perundingan yang dimediasi oleh utusan PBB dan Liga Arab Lakhdar Brahimi.

Konferensi itu dibayangkan sebagai kelanjutan Jenewa 1 pada Juni 2012, di mana kedua belah pihak sepakat mengenai pembentukan sebuah pemerintahan transisi tanpa secara khusus menyebutkan apa peran Assad dalam proses tersebut. Rencana itu hingga kini tidak pernah diimplementasikan.

Peran Assad

Sengketa mengenai peran Assad dalam transisi, dan perpecahan yang terjadi di kedua kubu baik oposisi yang berada di luar dengan para pemberontak yang berperang di lapangan, telah menimbulkan kekhawatiran tentang apakah kedua belah pihak bisa mencapai kesepakatan apalagi menerapkannya.

Koalisi Nasional, payung kelompok oposisi, telah menuntut pembentukan sebuah “badan pemerintahan transisi” dengan ”kekuasaan eksekutif penuh” yang tidak mengikutsertakan Assad dan lingkaran dalamnya.

Konflik ini dimulai sejak hampir tiga tahun lalu, diawali demonstrasi damai yang terinspirasi musim semi Arab, namun konflik itu meluas dan menjadi perang saudara setelah rejim Assad melancarkan serangan brutal kepada kelompok oposisi.

Hari ini ratusan kelompok bersenjata, termasuk brigade para jihadi yang sangat kuat dan berafiliasi dengan Al-Qaeda, ikut bertempur memerangi pemerintah dan juga sesama kelompok oposisi lain, memperumit usaha untuk mencapai penyelesaian politik.

Peran Arab Saudi dan Iran

Brahimi mengatakan baik Iran – sekutu kunci rejim Damaskus – dan Arab Saudi harus ikut ambil bagian dalam pembicaraan di Jenewa.

Tapi para pemberontak telah mengatakan bahwa Iran harus dikeluarkan dari proses sementara rejim Assad berkeras bahwa Arab Saudi harus dilarang ikut pertemuan, sambil menuduh Riyadh mendukung para ”teroris” di Suriah, istilah yang dipakai rejim bagi semua kelompok pemberontak bersenjata.

“Kami akan pergi ke Jenewa untuk membicarakan rakyat Suriah, bukan rakyat Saudi. Ada kelompok oposisi yang terkait dengan dinas intelijen, yang punya agenda lain.” Kata Zohbi.

”Arab Saudi dan Israel punya kepentingan dalam menyerang (pemerintah) Damaskus dan melanjutkan perang sehingga mereka bisa memaksakan kondisi yang mereka inginkan,“ tambah dia.

“Semua bukti mengindikasikan bahwa para teroris Saudi dilatih oleh dinas rahasia Arab Saudi,” kata dia, sambil menambahkan bahwa bangsa-bangsa Barat “sadar akan bahaya” yang muncul dari kelompok-kelompok semacam itu.

ab/hp (afp,ap,rtr)