1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tradisi Sulitkan Penanganan MERS

4 Mei 2014

Para pria berkumpul di gurun pasir, di salah satu pasar unta terbesar di Arab Saudi. Mereka meragukan pernyataan ilmuwan bahwa unta diduga menjadi sumber wabah MERS di Timur Tengah.

https://p.dw.com/p/1Bspa
Foto: picture-alliance/dpa

"Itu tidak benar. Itu bohong. Kami hidup dengan unta, kami minum
susu mereka, kami makan daging mereka. Tidak ada penyakit. Kami hidup dan tidur, serta menghabiskan seluruh hidup kita dengan mereka dan tidak terjadi apapun," kata Faraj al-Subai'i, seorang pedagang di pasar menanggapi berita adanya kaitan antara virus MERS dengan unta.

Sindrom Pernapasan Koronavirus Timur Tengah (MERS) telah yang menginfeksi ratusan orang di Arab Saudi itu telah diidentifikasi dua tahun yang lalu. MERS menyebabkan demam, pneumonia dan gagal ginjal dalam beberapa kasus, dan membunuh sekitar sepertiga dari penderitanya.

Meskipun banyak pasien terjangkit virus dalam wabah terbaru di Jeddah terjadi akibat penularan dari orang ke orang di rumah sakit, virus MERS telah ditemukan pada kelelawar dan unta.

Unta merupakan hewan istimewa bagi masyarakat Saudi. Hewan gurun ini menjadi penghubung dalam tradisi masyarakat nomaden.

WHO vs Pemerintah

Pekan lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan orang
berisiko untuk menghindari kontak dengan unta dan mengambil tindakan pencegahan ketika mengunjungi tempat-tempat di mana binatang itu ada. Selain itu juga disarankan untuk menghindari minum susu mentah dari unta.

Namun di pasar unta di Riyadh, beberapa mil di sepanjang jalan raya dari kota – para pedagang atau pekerja dan pemilik unta menyatakan tak mendapat saran, informasi atau peringatan tentang MERS dari pejabat pemerintah.

Bahkan Ehab el - Shabouri, seorang dokter hewan Mesir mengatakan ia tidak menyadari bahwa virus MERS ditemukan pada hewan: "Jika itu terkait dengan unta, Kementerian Pertanian pastinya akan mengambil beberapa tindakan," katanya.

Drei Kamele in der Wüste
Berjalan di gurun pasir, wilayah-wilayah esktrim.Foto: Fotolia/HandmadePictures

Unta sebagai bagian budaya

Beberapa pakar menduga akan ada perlawanan terhadap gagasan antisipasi wabah MERS jika berkaitan dengan unta. Unta terikat erat dengan identitas budaya di padang gurun. Para ahli khawatir hal ini bisa menghambat langkah-langkah pencegahan yang bertujuan untuk membatasi penyebaran penyakit –lewat cara mengendalikan sumbernya.

Unta adalah pemandangan umum di beberapa lokasi di Riyadh. Mereka merumput di tanah kosong atau diangkut truk di jalan-jalan utama. Di kota-kota lain seperti Jeddah, unta masih sering terlihat di pinggiran kota.

Selain sebagai sumber transportasi, susu dan daging unta sangat diperlukan untuk kehidupan nomaden Badui. Bahwa gaya hidup nomaden sudah lama hilang, digantikan dekade lalu oleh budaya urban—seperti mobil, supermarket dan televisi.

Namun rasa kepemilikan dan kecintaan terhadap unta merupakan bagian dari nostalgia, yang dipertontonkan dalam kontes-kontes yang menarik di hadapan puluhan ribu penonton. Dalam jutaan real hewan tercepat atau yang paling indah pun berpindah tangan.

Daging unta dipajang di supermarket bersama daging domba Selandia Baru dan daging sapi Irlandia. Susunya yang diminum segar dianggap sebagai obat mujarab yang menyehatkan.

Tidak ada rambu-rambu atau peringatan yang terlihat lain di seluruh
pasar unta untuk menyarankan orang untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra, seperti meningkat mencuci tangan atau menghindari kotoran hewan. Salman al-Rasheed, salah satu pedagang unta masih ragu bahwa hewan ini menjadi penular virus: "Ini tidak benar, karena pasar ini memiliki unta dari semua wilayah negara, unta sakit dan unta yang sehat, namun tak ada yang terjangkit MERS di antara kami,“ pungkasnya.

ap/hp(Angus McDowall, rtr/afp)