1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Langit Indonesia Berbahaya buat Penerbangan

20 Januari 2015

Padatnya lalulintas penerbangan di Indonesia sering memaksa pilot mengambil risiko yang tak perlu. Mereka juga mengeluhkan teknologi pengawasan lalulintas udara di Indonesia yang sudah usang dan layak diganti.

https://p.dw.com/p/1EEFD
Foto: picture-alliance/dpa

Pengawas penerbangan Indonesia kewalahan menanggulangi lalu lintas penerbangan di langit Asia Tenggara yang padat. Kondisi itu memaksa pilot mengambil risiko tak perlu untuk menepati jadwal perjalanan.

Pilot yang berpengalaman menjelajah rute penerbangan antara Indonesia dan Singapura mengklaim, sudah menjadi hal lumrah bahwa permintaan penangguhan lepas landas oleh pilot lantaran kondisi cuaca yang memburuk ditolak.

Penolakan biasanya disebabkan oleh lalu lintas udara yang padat dan sebab itu menyisakan jendela waktu yang sempit buat sebuah pesawat yang akan lepas landas. Namun akibatnya pilot terpaksa berhadapan dengan risiko terbang di kondisi cuaca yang buruk.

"Sebagai pilot profesional anda harus berpikir cepat," kata seorang bekas pilot Qantas yang berpengalaman selama 25 tahun di Asia Tenggara. "Salah satu bagian dari pekerjaan ini adalah menyeimbangkan risiko dan mengambil keputusan cepat."

Mengambil risiko menjadi hal yang lazim buat pilot menyusul padatnya jadwal penerbangan.

"Ada beberapa koridor udara yang terlalu padat karena lalu lintas penerbangan," kata seorang bekas pilot Singapore Airlines. "Salah satunya adalah rute Singapura-Indonesia yang dilayani oleh berbagai macam maskapai dengan tipe pesawat berbeda-beda yang terbang di berbagai ketinggian dan kecepatan."

Pilot-pilot maskapai kelas atas itu juga sering mengeluhkan teknologi pengawasan lalulintas udara di Indonesia yang tergolong usang jika dibandingkan Singapura. "Karena rutenya semakin penuh, pengawas membutuhkan waktu lebih lama buat koordinasi dan memberi izin dalam kasus perubahan ketinggian dan kondisi cuaca," ujarnya.

Untuk menjaga agar pesawat terpisah jauh satu sama lain di koridor yang sama, pengawas penerbangan di Indonesia menggunakan laporan pilot via komunikasi radio buat menentukan posisi pesawat dari pesawat lain.

Prosedur tersebut membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan teknologi radar yang digunakan Singapura atau bandara udara besar lainnya di seluruh dunia. Metode tersebut memungkinkan reaksi yang lebih cepat jika terjadi sesuatu.

Terkadang kondisi tersebut memaksa pilot melanggar peraturan. "Jika saya tidak mendapat izin mengubah rute, sementara cuaca buruk menghadang di depan, maka saya akan melakukannya dan baru berurusan dengan otoritas penerbangan di lain waktu, "kata bekas pilot Singapore Airlines yang kini bekerja buat sebuah maskapai Arab.

rzn/hp (rtr,ap,dpa)