1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Tekanan Ekonomi Satukan Fatah dan Hamas

Kate Shuttleworth14 Mei 2014

Kesepakatan rekonsiliasi antar faksi Palestina, Fatah dan Hamas, mungkin kali ini dapat bertahan lama entah karena keputusasaan ekonomi Hamas atau tekanan yang semakin memuncak dari warga Gaza.

https://p.dw.com/p/1Byp6
Foto: DW/K. Shuttleworth

Beach Road, jalan utama di sepanjang pesisir Gaza, adalah satu dari 20 proyek konstruksi yang bisa dilanjutkan meski seret bahan bangunan yang hanya didapat melalui perbatasan Rafah, yang dibuka beberapa kali sebulan berkat proses yang difasilitasi pemerintah Qatar. Sedangkan ratusan proyek lainnya terpaksa terhenti.

Sejak penggulingan Ikhwanul Muslimin, kehidupan warga Gaza berubah. Pasukan perbatasan Mesir dan insinyur militer telah menghancurkan hingga 1.200 terowongan antara Semenanjung Sinai dan Jalur Gaza, menyebabkan Hamas kehilangan pendapatan pajak sebesar 230 juta dolar dari operator terowongan.

Wilayah pesisir menjadi semakin terisolasi dan warga harus menghadapi krisis bahan bakar serta penutupan pembangkit listrik satu-satunya di Gaza, mengakibatkan mati listrik yang bisa berlangsung hingga 12 jam.

Bukan sesuatu yang baru

Aliran dana dan produk semakin menipis
Aliran dana dan produk semakin menipisFoto: DW/K. Shuttleworth

Nabil Abu Muaileq, ketua serikat kontraktor Palestina, mengatakan dirinya bertemu dengan Presiden Mahmoud Abbas di Ramallah bulan Oktober 2013 untuk membahas perlunya rekonsiliasi setelah penutupan terowongan ke Mesir.

"Kami mulai bermasalah dengan tender dan kontrak. Angka pengangguran juga naik 34-45 persen. 70.000 orang menganggur - 30.000 diantaranya bekerja langsung dengan serikat kontraktor, yang 40.000 lagi secara tidak langsung," ujarnya kepada DW.

Rekonsiliasi akan secara langsung menguntungkan perekonomian warga Gaza yang menganggur. Untuk industri konstruksi sendiri, Muaileq memprediksi separuh pekerja yang menganggur akan mendapat kerjaan begitu Fatah dan Hamas bekerjasama.

Semua sektor menderita

Salah satu orang terkaya Gaza, Jawdat Khoudary, memiliki perusahaan konstruksi Saqqa & Khoudary beranggaran 15 juta Dolar per tahun dan telah membangun dua rumah sakit dengan dana dari Turki dan Arab Saudi.

Khoudary mengatakan kepada DW bahwa sejak penghancuran terowongan ke Mesir, hanya 50 persen proyeknya yang masih bisa berjalan.

"Ketika konstruksi rumah sakit sedang memuncak, saya mempunyai 250 pekerja, tapi sejak Oktober 2013 jumlahnya kurang dari 20 orang dan ini hanya terkait satu proyek," kata Khoudary.

"Saya benci Hamas," ungkap Mansour Albudi, seorang petani stroberi yang tidak sungkan memberi pandangannya terhadap pemerintahan Hamas. "Begitu Hamas berkuasa, situasinya bertambah buruk, terutama bagi petani. Kalau saya dapat mengubah sesuatu, saya ingin mengganti pemerintahan yang sekarang, karena mereka hanya mendahulukan kepentingan sendiri," tuturnya.

Lezat, tapi siapa yang beli?
Lezat, tapi siapa yang beli?Foto: DW/K. Shuttleworth

Sebelum tahun 2006, Albudi mengekspor 30 ton stroberi ke Eropa dan dalam jumlah besar ke Tepi Barat dan Israel. Tahun 2013 ia hanya mampu mengekspor 200 kilogram ke Eropa.

Segi teknis rekonsiliasi

Sementara pajak pemerintah Hamas dari perdagangan melalui terowongan seharusnya bisa membayar lebih dari 47.000 orang. Namun para pekerja ini baru mendapatkan separuh bayaran mereka sejak tahun 2013.

Isra Almodalal, jurubicara pemerintahan Hamas, mengatakan dirinya baru dibayar separuh sejak mulai menjabat September 2013.

Meski muncul kekhawatiran di antara staf pemerintah di Gaza, mereka juga merasa rekonsiliasi sebagai langkah vital. "Rekonsiliasi adalah langkah penting bagi warga di jalanan Gaza yang semakin frustrasi. Mereka membutuhkan ini," ucap Almodalal.

Banyak pertanyaan politis, administratif dan terkait keamanan yang masih belum terjawab menyusul kesepakatan rekonsiliasi terbaru. Belum ada keputusan apakah Hamas akan melucuti pasukannya atau menggabungkannya ke dalam pasukan keamanan Otoritas Palestina, yang terus berkoordinasi dengan Israel. Dalam beberapa pekan mendatang, seraya pemerintahan gabungan hasil rekonsiliasi terbentuk dan pemilihan umum mendekat maka detailnya akan semakin jelas.