1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosbud

Sensor dalam Kesenian di Myanmar

Setelah 50 tahun, Myanmar membuka diri. Tahanan politik mulai dibebaskan, sensor dilonggarkan. Hal ini menyulut harapan rakyat akan kebebasan.

Dengan perut buncitnya, sang penyensor melonjor duduk di kursi bioskop. Kantuk menggodanya, setelah menikmati penganan enak yang dibayari oleh sutradara. Tapi tiba-tiba matanya membesar. Mendelik, ia menggeram keras: "Sensor adegan ini! Ini merusak citra negara. Orang asing akan berpikir, di Myanmar ada pengemis.“ "Tapi kan memang ada“, bantah seseorang. "Di luar sana memang ada, tapi tidak dalam Film!“

Begitulah bagian cerita film "Sensor adegan itu!“ karya sutradara Htun Zaw Win.  Film pendek ini  merupakan kejutan, mengritik keras badan sensor Birma dan menudingnya korup dan zalim.

Tayangan Festival Bebas Sensor

Di festival film "Art of Freedom“ yang digelar di Yangon, film tersebut menjadi favorit publik. Penyelenggara festival mengatakan, festival itu ingin menguji batas-batas kebijakan negara. Motto festivalnya: Kebebasan berseni, Kebebasan Berpendapat, Kebebasan. Lebih dari 50 film ditayangkan, seluruhnya tanpa lampu hijau dari Badan Sensor Film Myanmar. Inilah sensasi yang sebenarnya.

Moustache Brothers, Par Par Lay danLu Maw

Puluhan tahun lamanya rejim militer Myanmar memerintah dengan tangan besi. Setiap lagu, buku atau karya seni harus melewati sensor sebelum dilihat publik. Pandangan kritis bisa menyebabkan senimannya ditangkap, disiksa dan dihukum keras. Seperti yang dialami kelompok kabaret Moustache Brothers, dari kawasan Mandalay.

Ketiga aktor kabaret ini tahun 1996 tampil dalam sebuah unjuk rasa yang mendukung politisi oposisi, Aung San Suu Kyi. Tak lama kemudian dua diantara tiga aktor itu menghilang, mereka dijebloskan di kamp konsentrasi selama bertahun-tahun.

Botol Baru, Isi Lama

Sejak itu Moustache Brothers dilarang tampil di muka publik Birma. Mereka hanya boleh tampil di depan orang asing. Dan itu yang mereka kini lakukan. Di depan segelintir turis di dalam sebuah garasi, para pemain kabaret yang kini bongkok akibat usia dan siksaan, tak terpatahkan tekadnya.

"Anda lihat"?, begitu cerita Lu Maw dengan sebuah mikrofon tua, "ibu saya yang berusia 85 tahun duduk setiap malam di depan garasi dan berjaga, mengawasi ulah dinas rahasia. Kalau mereka mendekat, ia akan bersiul".

Siulan panjang terdengar, di antara suara-suara yang bergumam "KGB, KGB". Para turis itu terpingkal-pingkal mendengarnya. Padahal yang diceritakan adalah kenyataan getir.

Aman Melukis Pemandangan

Situasi di Myanmar hampir tidak berubah di bawah pemerintahan baru yang pseudo-demokratis ini, begitu keluh Lu Maw. Tuturnya, "Ini sebuah botol bir. Saya bisa mengganti mereknya, misalnya botol ini saya tempeli logo Johnny Walker. Tapi tentunya, isinya sama sekali bukan whiskey. Birmapun begitu, mereknya baru, isinya tua. Ya, botolnya baru, anggurnya sama.”

Menjaga Keseimbangan

Sementara pemerintah Birma sudah berusaha keras: mereka membebaskan tahanan politik, termasuk pelawak kenamaan Zaganar, melonggaran sensor dan membuka pintu dialog dengan Aung San Suu Kyi. Tapi hingga kini tak seorangpun yang bisa mengatakan seberapa jauh perubahannya. Begitu ungkap Zeck, gitaris sebuah grup jazz.

Seperti pemusik lainnya, gitaris ini harus menunjukkan teks ciptaanya ke badan sensor. Lagu-lagu Zeck biasanya filosofis, berbicara tentang cinta, pencarian diri di dalam dunia. Sebenarnya ini tidak politis. Tapi ini tak berarti, karyanya tidak kena sensor. Sekali waktu ia pernah menggunakan kata „pedang“. Tinta merah sensor sigap memangkasnya, dengan alasan bahwa kata pedang terlalu membakar dan berbahaya.

Aung San Suu Kyi

Politisi oposisi dan pemenang hadiah Nobel Perdamaian asal Birma, Aung San Suu Kyi mengatakan, "Seniman membuka mata kita untuk hal-hal yang kadang2 tidak kita perhatikan. Karenanya seniman itu sangat penting. Memenjarakan karena keyakinan mereka atau ide-ide mereka, membuat dunia ini sempit.“ Bagi para sutradara, pelukis, musisi dan penulis Birma, kebebasan seni di Myanmar masih berarti, menjaga keseimbangan saat berkarya.

Monika Griebeler / Edith Koesoemawiria
Editor: Hendra Pasuhuk