1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sengketa Diplomatik Indonesia-Brasil

Hendra Pasuhuk24 Februari 2015

Presiden Jokowi mengecam keras pemerintah Brasil yang tidak memberi surat mandat untuk Duta Besar Indonesia. Bagi Jokowi, ini soal kehormatan, bagi Presiden Brasil Dilma Rousseff, ini soal nyawa warganya.

https://p.dw.com/p/1EgQI
Joko Widodo
Foto: Reuters/Romeo Ranoco

Presiden Joko Widodo menegaskan, penarikan Duta Besar Indonesia untuk Brasil, Toto Riyanto, adalah jawaban keras Indonesia terhadap perlakuan tidak patut yang dilakukan Brasil. Menurut Jokowi, tidak seharusnya Brasil menunda upacara penyerahan surat mandat Dubes RI untuk Brasil.

Presiden Brasil Dilma Rousseff menunda secara mendadak penyerahan surat mandat (credential) kepada Dubes RI Toto Riyanto, yang saat itu sudah berada di Istana Kepresidenan Brasil. Indonesia akhirnya menarik pulang Toto Riyanto ke Jakarta.

Jangan ada yang intervensi masalah eksekusi mati, karena itu adalah kedaulatan hukum kita, kedaulatan politik kita," kata Jokowi di Istana Merdeka, Selasa (24/02/15)

Brasil mengajukan protes, karena warganya terancam eksekusi mati di Indonesia. Sebelumnya, warga Brasil yang lain, Marco Archer, sudah dieksekusi mati bulan Januari lalu.

Soal penegakan hukum

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menerangkan, pihaknya akan terus memberi pemahaman pada negara lain tentang hukum yang berlaku di Indonesia. Ia berharap, hukum positif yang berlaku di Indonesia tidak diintervensi oleh negara manapun.

"Hukuman mati masih menjadi bagian dari hukum positif yang ada di Indonesia. Jadi kita tidak akan lelah untuk menjelaskan kepada dunia," kata Retno di Jakarta.

Kejaksaan Agung tengah mempersiapkan eksekusi mati gelombang ke-dua untuk para terpidana mati kasus narkoba, antara lain satu warga Brasil Rodrigo Gularte dan dua warga Australia, Myuran Sukumaran dan Andrew Chan.

Menurut laporan terakhir, eksekusi mati kedua warga Australia itu ditunda beberapa minggu "atas alasan teknis".

Wakil Presiden Jusuf Kalla menerangkan, pemerintah Indonesia akan memperlakukan sikap yang berbeda terhadap Brasil dan Australia. Indonesia akan mengurangi impor bahan baku dan mengurangi pembelian senjata dari Brasil.

Brasil dan Belanda sempat menarik dubesnya dari Jakarta setelah warganya ditembak mati dalam gelombang eksekusi pertama bulan Januari.

Indonesia pusat perdagangan narkoba

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Indonesia saat ini menjadi salah satu jalur utama perdagangan obat bius. Hal itu disampaikan Troels Vester, koordinator lembaga PBB untuk kejahatan narkoba, UNODC (United Nations Office on Drugs dan Crime) dalam wawancara dengan DW.

Troels Vester memperkirakan, saat ini ada sekitar 3,7 juta sampai 4,7 juta pengguna narkoba di Indonesia. Narkoba yang paling banyak digunakan adalah jenis Amphetamine Type Stimulants (ATS), yang di Indonesia sering disebut "sabu-sabu".

Banyak obat bius diperdagangkan dan diselundupkan oleh sindikat internasional yang terorganisasi, terutama karena ada permintaan cukup tinggi. Indonesia punya populasi muda yang besar dan sekarang menjadi pasar narkoba yang besar juga.

Dalam wawancara dengan DW Troels Vester selanjutnya mengatakan, sindikat obat bius ini bekerja sangat rapih dari beberapa negara. Mereka memanfaatkan pengawasan perbatasan yang lemah di Indonesia, karena banyak kapal yang bisa beroperasi melewati laut tanpa pengawasan.

hp/yf (rtr, afp)