1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perlindungan Hutan Global

Karina Gomes4 Maret 2014

Ide revolusioner dari hutan tropis. Brasil berikan ide bagi wadah internet "Global Forest Watch" yang memantau keadaan hutan di seluruh dunia lewat satelit.

https://p.dw.com/p/1BIl9
Foto: Reuters

Berpikir global, bertindak lokal. Slogan anti globalisasi yang terkenal menjadi landasan sejarah sukses dari hutan tropis Brasil. Pengawasan pembalakan hutan Amazona lewat satelit, yang dimulai tahun 2004, kini akan dilaksanakan di seluruh dunia.

Sejak akhir Februari, perusakan hutan diawasi situs internet Global Forest Watch (GFW). Seperti pada Googe Maps, pengguna bisa memperoleh keterangan tentang jumlah pohon. Dengan hanya mengklik, orang bisa melihat perubahan jumlah pohon antara tahun 2000 dan 2012, lengkap dengan keterangannya, juga faktor-faktor mana yang penting untuk mencegah rusaknya hutan dan tumbuhan.

Evaluasi berdasarkan data dari satelit juga dilengkapi laporan-laporan dari berbagai negara dengan informasi tentang situasi di setiap hutan, nilai ekonominya dan peraturan yang berlaku di negara itu. Menurut keterangan GFW, antara tahun 2000 dan 2012 sekitar 2,3 juta km persegi wilayah hutan punah. Negara-negara yang paling menderita adalah Rusia, Kanada, Indonesia, AS dan Brasil.

Langkah Pionir di Amazona

Ide untuk mengawasi situasi hutan lewat satelit berasal dari Brasil. Institut untuk Penelitian Angkasa Nasional (INPE) sudah mengawasi pembalakan di Amazona sejak 2004 lewat satelit. Insitut penelitian independen "Imazon" mengembangkan ide ini di Belém, dalam kerjasama dengan Google, dan meluncurkan sistem alarm terhadap pembalakan tahun 2012.

Grafik Global Forest Watch
Foto: World Resources Institute

Brasil adalah negara satu-satunya di dunia, yang memiliki sistem alarm ini. Ini menjadi sumbangan untuk mengurangi perusakan hutan tropis. Demikian dijelaskan Nigel Sizer, kepala inisiatif internasional pada tangki pemikir World Resource Institute (WRI), di Washington.

Lebih dari 40 mitra bekerja sama pada wadah baru ini bagi perlindungan hutan global lewat satelit. Yang utama adalah tangki pemikir WRI, Google, Program Lingkungan PBB UNEP, Institut Penelitian Brasil "Imazon" serta sejumlah tangki pemikir lainnya, demikian halnya dengan sejumlah universitas, perusahaan biasa dan perusahaan non profit.

Tekanan atas Pemasok

"Global Forest Watch akan mengubah penggunaan hutan secara radikal," demikian perkiraan pemimpin WRI Andrew Steer. Institut keuangan bisa memberikan penilaian lebih tepat atas perusahaan-perusahaan, di mana mereka menanam modal. Selain itu, pedagang bahan baku bisa memeriksa pemasok minyak sawit, kedelai, kayu dan daging. Steer menambahkan, "Yang merusak hutan tidak bisa menghilangkan jejak lagi, dan mereka yang memperhatikan kelangsungan bisa diberikan imbalan".

Data di wadah baru itu akan terus diaktualisasi dengan data dari mitra proyek. Misalnya, Forest Monitoring for Action (FORMA) menunjukkan setiap bulan, lahan hutan tropis yang baru dirusak. Selain itu, foto dari satelit yang digunakan Badan Antariksa AS (NASA) setiap harinya menunjukkan kebakaran hutan yang baru terjadi. Universitas Maryland melaporkan setiap tahunnya tentang bertambah dan berkurangnya lahan hutan di seluruh dunia, dengan ketepatan 30 kali 30 meter.

Pengguna internet juga bisa mengaktualisasi isi wadah tersebut. Mereka bisa melaporkan pembalakan yang terjadi di dekat lokasi mereka tinggal, dan mempublikasikan laporan. Wadah itu memberikan pertolongan bagi badan pemerintah, untuk menjatuhkan sanksi bagi pihak yang merusak atau membalak hutan, atau lebih baik lagi jika dapat mencegahnya.

Tahun lalu saja kontrol lewat satelit sudah tampak efisien di Indonesia. Lewat sistem pelaporan kebakaran milik NASA, produsen minyak sawit yang menyebabkan kebakaran hutan bisa dicari. Pemerintah kemudian menjatuhkan hukuman atas perusahaan itu, demikian dikatakan pemimpin proyek Nigel Sizer dari WRI. Ia menambahkan, "Saya berharap lewat penyatuan sistem monitoring pada Global Forest Watch, efek ini bisa diperkuat, dan kontrol di seluruh dunia bisa dilaksanakan".