1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Penanaman Opium Meningkat di Afghanistan

Sandra Petersmann22 November 2012

Di Afghanistan semakin banyak ladang dibuka untuk tanaman opium. Itu disebutkan dalam laporan terakhir soal narkoba dari PBB. Bisa dibilang upaya yang dilakukan kearah pemberantasan opium tidak berhasil.

https://p.dw.com/p/16nje
A picture made available on 01 May 2009 shows poppy fields in Kunduz, northern Afghanistan, 30 April 2009. Afghanistan is making inroads in stemming an opium drug trade that has fuelled a growing insurgency in the war- torn country, according to an annual report on the global drug trade by the US State Department. Afghanistan?s opium poppy cultivation has fallen 19 per cent in 2008 from record highs in the two previous years, but the US warned that few inroads had been made in the country?s most volatile southern provinces. EPA/JAWED KARGAR +++(c) dpa - Report+++
Foto: picture-alliance/dpa

Afghanistan tetap menjadi negara produsen opium terbesar di dunia. Negara itu sudah lama menjadi pemasok sekitar 90% opium yang beredar di dunia, kata kepala kantor PBB yang mengurus pengentasan narkoba dan kriminalitas di Kabul, Jean-Luc Lemahieu.

Sekarang ada perubahan dalam jumlah yang dilaporkan, dan itu menunjukkan tren baru. Menurut keterangan PBB, petani Afghanistan sekarang menanami lebih dari 150.000 hektar tanah dengan bunga candu. Dibanding tahun lalu, itu adalah kenaikan sebesar 18%. Padahal pemerintah sudah melaksanakan program pemberantasan narkotika, yang biayanya sangat besar.

Opiumproduktion in Afghanistan An Afghan farmer derives raw opium from poppy buds in his fields on the outskirts of Kandahar Friday, 29 April 2005. Opium production in Afghanistan has remained a major challenge for the Afghan government, assisted by the international community. Afghan President Hamid Karzai called for increased international assistance to curb Afghan cultivation of opium poppies to be processed into heroin, saying there was evidence of a substantial drop in cultivation. The extremist Taliban regime toppled by a U.S.-led international military coalition in late 2001 had banned the cultivation of all types of drugs in the war-torn country. However, farmers across the country began growing poppy soon after the fall of the regime. EPA/HUMAYOUN SHIAB +++(c) dpa - Report+++
Seorang petani Afghanistan mengeluarkan masa mengandung opium dari kuncup bunga Poppy.Foto: picture-alliance/ dpa/dpaweb

Jumlah panen yang tidak memecahkan rekor di tahun ini hanya terjadi, karena cuaca buruk. Lagipula penyebaran sejenis penyakit tanaman mencegah hasil panen berkualitas tinggi. Dari panen bunga candu tahun ini, dihasilkan 4.000 ton opium mentah. Tahun lalu, hasilnya sampai 6.000 ton. Opium mentah adalah bahan dasar yang dibutuhkan orang untuk produksi heroin.

Sumber Dana Taliban

Ladang bunga candu yang luas tetap berada di bagian Selatan Afghanistan, di provinsi Helmand dan Kandahar, di daerah kekuasaan Taliban. Bagi kaum radikal Islam, bisnis narkoba adalah sumber keuangan penting, untuk membiayai perjuangan. Di lain pihak, Afghanistan adalah negara yang harus mengimpor bahan pangan. Tetapi petani Afghanistan dapat memperoleh pemasukan hampir 10 kali lipat lebih banyak dengan menanam bunga candu daripada dengan menanam gandum. Untuk satu kilogram opium mentah, tahun ini petani dapat memperoleh uang lebih dari 150 Euro. Tetapi bisnis besar tidak melibatkan petani, melainkan penyelundup, produsen heroin dan pedagangnya.

Opium mentah terutama datang ke pasaran Eropa dan Amerika Utara lewat Iran, Tajikistan dan Rusia. Sejumlah besar hasil panen juga dijual di Afghanistan, dan jumlahnya semakin besar. Menurut perkiraan PBB, di Afghanistan sedikitnya ada satu juta orang yang kecanduan narkotika.

An elderly Afghan woman peeks through a door to watch as Khalil, a 25-year-old Afghan opium dealer, and visitors walk through the small alleyways of Kandahar, Afghanistan, Tuesday Dec. 18, 2001. Opium in Kandahar sells for US$500.00 per kilo (US$250 per pound), and seven kilos are needed to process one kilo of heroin. Opium sales never stopped during the Taliban regime, said Khalil. (AP Photo/Jerome Delay)
Seorang perempuan lanjut usia mengintip, ketika Khalil, penjual opium berusia 25 tahun, melewati rumahnya di KandaharFoto: AP

Kesadaran Warga Masih Kurang

Waheeda termasuk di antaranya, dan sudah sejak beberapa tahun lalu. Ia menjadi ibu dari beberapa anak. Pipa untuk menghisap opium pertama kali ia peroleh dari suaminya beberapa tahun lalu. Suaminya pun kecanduan narkotika. Waheeda bercerita, "Kata suami saya, setelah menghisap ini saya akan merasa lebih senang. Ternyata ia benar. Saya juga mengkonsumsi opium ketika hamil dengan anak perempuan saya. Ketika ia lahir, keadaannya tidak baik."

Ia bercerita lebih lanjut, "Lalu saya memberikan dia opium, dan keadaannya membaik. Sekarang saya tahu, ia juga tergantung pada opium, seperti halnya saya.“ Anak perempuan itu cacat mental. Ibunya, Waheeda, kini berusaha melepaskan diri dari ketergantungan pada opium. Tetapi di Afghanistan tidak banyak program bimbingan bagi warga yang kecanduan.