1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Memberi Wajah bagi Korban Drone

Shamil Shams15 April 2014

Sekelompok seniman Pakistan berusaha menciptakan empati di antara operator pesawat nirawak AS terhadap korban serangan mereka dengan menempatkan poster berukuran besar dari seorang anak korban.

https://p.dw.com/p/1Bhd1
Foto: picture-alliance/AA

Amerika Serikat untuk sementara waktu menghentikan serangan pesawat nirawak di Pakistan untuk memberi kesempatan kepada Islamabad menggelar dialog dengan pemberontak Islamis. Serangan drone terakhir dilancarkan tanggal 26 Desember 2013, yang menewaskan tiga tersangka militan.

Washington berkali-kali membenarkan serangan drone, dengan menyebut langkah ofensif itu sebagai upaya menjaga keamanan Amerika dari kemungkinan serangan teroris internasional. Hingga kini, sejumlah petinggi Al-Qaeda dan Taliban telah terbunuh dalam serangkaian serangan pesawat tanpa awak.

Namun pemerintah Pakistan mengutuk penggunaan pesawat nirawak yang menarget militan, dan mengklaim lebih banyak warga sipil yang tewas akibat serangan ketimbang Islamis yang menjadi target. Islamabad juga menganggap serangan semacam ini sebagai pelanggaran kedaulatan negaranya.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia mengatakan jumlah warga sipil yang tewas akibat serangan drone cukup tinggi. Lembaga pemikir New America Foundation melaporkan bahwa serangan pesawat nirawak Amerika Serikat menewaskan antara 1.715 hingga 2.680 di Pakistan dalam 8 tahun terakhir, kebanyakan diantaranya warga sipil.

Pemerintahan Obama lebih memilih serangan drone daripada cara konvensional untuk menarget militan
Pemerintahan Obama lebih memilih serangan drone daripada cara konvensional untuk menarget militanFoto: picture-alliance/AA

Empati

Sejumlah partai politik konservatif dan organisasi HAM Pakistan telah menggelar unjuk rasa melawan penggunaan pesawat tanpa awak. Kampanye seperti ini umumnya fokus mengkritik Washington yang dinilai melakukan 'kejahatan perang' dan tidak menghormati pemerintah Pakistan. Namun belum lama ini, sekelompok seniman Pakistan muncul dengan cara baru dalam mengangkat isu tersebut: Daripada mengutuk Amerika Serikat, mereka lebih memilih untuk menciptakan 'empati' di antara operator pesawat nirawak.

Proyek #NotABugSplat berupaya menggugah kesadaran melawan serangan drone melalui cara yang unik. Istilah 'bug splat' atau percikan serangga digunakan oleh pilot pesawat nirawak untuk menyebut wujud korban apabila dilihat dari kamera video.

Dengan memberi wajah bagi korban pesawat tanpa awak, para pencetus proyek seni ini berharap pilot drone dan pembuat kebijakan Amerika Serikat akan mempertimbangkan konsekuensi mematikan dari salah satu program kunci Washington dalam melawan terorisme.

Baru-baru ini penyelenggara proyek merilis foto raksasa, yang mereka ambil dari udara dengan menggunakan helikopter mini nirawak, yakni foto seorang anak perempuan yang kehilangan kedua orangtuanya dalam serangan drone di provinsi Khyber-Pakhtunkhwa.

"Dari udara, para korban terlihat kecil bagaikan serangga. Kami ingin memperlihatkan kepada operator drone bagaimana wujud para korban dalam kehidupan nyata. Harapannya foto semacam ini dapat memicu empati dan introspeksi," ucap salah seorang seniman yang terlibat kepada kantor berita AFP dengan kondisi anonimitas.

Organisasi-organisasi HAM mengatakan serangan pesawat nirawak banyak menewaskan anak-anak
Organisasi-organisasi HAM mengatakan serangan pesawat nirawak banyak menewaskan anak-anakFoto: picture-alliance/AA

Seni demi hidup

Seorang seniman ternama Pakistan bernama Feica kepada DW mengatakan bahwa proyek seperti ini seharusnya diinisiasi tidak hanya dalam melawan serangan drone namun juga berbagai jenis peperangan. "Proyek #NotABugSplat sangatlah kuat tapi seharusnya tidak hanya terbatas pada isu tertentu. Seniman harus selalu muncul dengan ide baru untuk mempromosikan perdamaian," kata Feica, yang bekerja untuk harian berbahasa Inggris di Pakistan, Dawn, dan telah menggambar kartun politik selama lebih dari tiga dekade.

Sang seniman yakin warga Pakistan harus menggunakan 'medium artistik' untuk mengekspresikan amarah terkait isu politik dan tidak memilih kekerasan.