1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Perangi polusi

Gabriel Dominguez30 Juli 2013

Cina baru umumkan rencana besar untuk atasi polusi udara, yang sebabkan masalah sosial. Langkah ini tegaskan bagaimana polusi sudah jadi prioritas di Beijing. Tapi pakar berpendapat, perubahan radikal harus diadakan.

https://p.dw.com/p/19H1d
A man and woman wearing masks walk along a wall near a smog-shrouded residential district in Beijing Tuesday, Jan. 29, 2013. Extremely high pollution levels shrouded eastern China for the second time in about two weeks Tuesday, forcing airlines in Beijing and elsewhere to cancel flights because of poor visibility and prompting government warnings for residents to stay indoors. (Foto:Ng Han Guan/AP/dapd)
China Smog in PekingFoto: AP

Beijing umumkan "rencana paling komprehensif dan keras" untuk kurangi polusi udara. Menurut harian milik pemerintah, "China Daily", pemerintah Cina menetapkan investasi sebesar 1,7 trilyun Yuan untuk hingga 2017, mengontrol dan mengurangi polusi udara di beberapa daerah. Zhao Hualin dari Departeman Perlindungan Lingkungan menyatakan kepada harian itu, bahwa pemerintah menjadikan rencana tersebut salah satu aksi utama yang akan diselenggarakan lima tahun ke depan.

Batas yang ditetapkan adalah kadar PM (particulate matter) atau partikulat 2,5, yang berarti lebih kecil dari 2,4 mikrometer atau 10 kali lebih kecil dari rambut manusia. Partikel berukuran kecil itu berbahaya, karena bisa masuk hingga bagian paling dalam paru-paru dan menyebabkan penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Prevensi polusi udara dan rencana aksi pengontrolan itu terutama ditujukan untuk bagian utara Cina, terutama kota Beijing dan Tianjin, juga kota-kota di provinsi Hebei. Pemerintah bertujuan mengurangi emisi udara sebanyak 25% dibanding tahun 2012.

Pedestrians wearing masks walk on the Tiananmen Square in smog in Beijing, China, 23 January 2013. Air pollution spiked to dangerous levels again in Beijing yesterday, with skyscrapers vanishing amid the acrid smog and facial masks becoming so common they look like a new fashion trend. Local weather authorities issued yellow alerts for both fog and smog - the third-highest level on a four-tier colour-coded warning system - indicating that visibility could drop below 500 meters, Xinhua reported. By 4pm, the air pollution index in central Beijing exceeded 300, which the government rates as hazardous, and an air monitoring station near a flyover in the Xicheng district recorded a level of 423. A hazardous level over a 24-hour period is considered bad enough to make even healthy people ill.
Pejalan kaki di lapangan Tiananmen, Beijing mengenakan masker akibat tingginya polusi udara (23/01/13)Foto: picture-alliance/dpa

'Rakyat Tuntut Aksi'

Pengumuman itu mengikuti keputusan lainnya yang diambil pemerintah untuk memerangi polusi udara. Peraturan baru juga mencakup pengembangan sumber energi bersih. Menurut pakar lingkungan Cina, Isabel Hilton dari organisasi non profit, "chinadialogue", masalah polusi sudah menjadi masalah politik utama bagi pemerintah, mengingat protes rakyat yang semakin marak. Kini pemerintah khawatir akan ketidakstabilan politik dan legitimasinya. Demikian dikatakan Hilton kepada DW.

Namun pengumuman terakhir tidak mencakup perincian bagaimana target akan dicapai. Sehingga timbul pertanyaan, siapa yang harus melaksanakan langkah baru itu dan bagaimana. Hilton berpendapat, Departemen Perlindungan Lingkungan tidak berdaya dalam menghadapi tuntutan ekonomi dan industri. Menurut pakar itu, walaupun departemen menetapkan peraturan, "itu sering diabaikan, dan denda bagi polusi terlalu kecil dan tidak ditetapkan secara tegas, sehingga tidak efektif."

Jutaan Kasus Kematian

Cina lama menggantungkan diri pada energi batu bara, yang sudah mendorong ekonomi negara itu dalam beberapa dasawarsa terakhir. Tapi kemajuan ekonomi itu harus dibayar mahal. Menurut statistik Global Burden of Disease (DGB) tahun 2010, yang diterbitkan majalah "The Lancet," polusi udara menyebabkan sekitar 1,2 juta kematian bayi prematur di tahun 2010 saja. Menurut GDB, polusi adalah penyebab kematian bayi prematur ke empat di Cina, setelah diet, tekanan darah tinggi dan merokok.

Cina sudah menjadi penghasil karbon dioksida terbesar, setelah menyusul AS tahun 2006 lalu. Selain itu, sebuah studi yang diterbitkan di AS menunjukkan, politik Cina yang memberikan batu bara secara cuma-cuma untuk mengoperasikan pemanas selama musim dingin di kota-kota di utara sungai Huai mengurangi harapan hidup 500 juta orang di daerah itu, sebanyak lima setengah tahun.

A Chinese man wears a respitory mask while riding a bicycle on a crowded street in Beijing, Thursday 03 November 2005. Next week China will host the Beijing International Renewable Energy Conference 2005 with delegations from around the world. The conference will address the impact of global warming caused by massive consumption of fossil fuels and industrial pollutants. Foto: MICHAEL REYNOLDS +++(c) dpa - Report+++
Seorang pengemudi sepeda di Beijing sudah mengenakan masker ketika foto diambil, 3 November 2005.Foto: picture-alliance/dpa

Dibutuhkan Perubahan Radikal

Banyak pakar menduga, walaupun pemerintah berusaha mengambil langkah penanganan, sampai dampak langkah itu bisa dilihat, masih dibutuhkan waktu bertahun-tahun dan perubahan radikal dalam struktur energi Cina. Tingginya tingkat polusi juga berdampak pada boom ekonomi Cina. Pakar dari universitas teknik AS, Massachusetts Institute of Technology (MIT) beberapa waktu lalu menerbitkan studi yang menunjukkan, dampak polusi terhadap kerugian ekonomi meningkat dari 22 miliar Dolar tahun 1975 menjadi 112 miliar Dolar tahun 2005.

Pakar lingkungan Isabel Hilton berasumsi, pemerintah Cina kini berusaha memerangi korupsi juga karena faktor gengsi. Bagi pemerintah yang senang membanggakan kemajuan ekonominya, memalukan jika ibukotanya dianggap tidak layak dihuni.