1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Korut Benarkan Kegagalan Peluncuran Roket

13 April 2012

Uji coba peluncuran rudal jarak jauh Korea Utara mengalami kegagalan. Roket hancur tidak lama setelah diluncurkan. Amerika akan hentikan bantuan pangan kepada Korea Utara.

https://p.dw.com/p/14dH4
Foto: dapd

Meski hujan kritik dari masyarakat internasional, Korea Utara tetap meluncurkan roket jarak jauh, Jumat (13/04), yang hancur tidak lama setelah diluncurkan. Roket, yang dikatakan Pyongyang memabawa sebuah satelit cuaca, jatuh di Laut Kuning antara Semenanjung Korea dan Cina, setelah sempat terbang sejauh 120 kilometer dari lokasi peluncuran. Demikian menurut pejabat di Seoul, Tokyo dan Washington.

Pyongyang sendiri mengakui kegagalan ini, mengatakan peluncuran berjalan tidak sesuai rencana. Media pemerintah Korea Utara menyatakan, “Satelit tidak berhasil mencapai orbit.“

Jepang, yang telah menyiagakan pertahanan udaranya, mengatakan, roket Korea Utara tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi wilayah Jepang. “Benda terbang tersebut diyakini terbang selama satu menit dan jatuh ke laut,“ dikatakan Menteri Pertahanan Jepang Naoki Tanaka. “Ini sama sekali tidak mempengaruhi wilayah negara kita.“

Peluncuran roket ini adalah untuk memperingati ulang tahun ke 100 pendiri Korea Utar Kim Il Sung. Namun internasional menuduh, peluncuran ini hanyalah kedok untuk uji coba rudal balistik yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Dewan Keamanan Gelar Pertemuan

Dewan Keamanan PBB merencanakan untuk mengadakan pertemuan darurat, Jumat (13/04), untuk membahas peluncuran roket Korea Utara.

Dalam pertemuan negara G 8 di Washington, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton mengatakan bahwa tidak ada keraguan Korea Utara menggunakan teknologi rudal balistik dan negara ini telah menentukan “pilihan yang jelas”. “Negara ini dapat mengejar perdamaian dan mengambil keuntungan dari hubungan yang lebih erat dengan masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat, atau harus terus menghadapi tekanan internasional dan isolasi,“ dikatakan Clinton kepada wartawan.

Rusia, yang biasanya bertindak lebih lunak kepada Korea Utara, menyatakan, peluncuran roket ini telah melanggar resolusi PBB, yang menjatuhkan sanksi setelah Korea Utara melakukan uji coba nuklit di tahun 2006 dan 2009.

Sementara sekutu Korut, Cina, walaupun tidak mengatakan Korut telah melanggar resolusi PBB, lewat duta besarnya di PBB menyatakan “sangat prihatin“. “Kami pikir perdamaian dan stabilitas di kawasan sangat penting. Kita harus melakukan segala kemungkinan untuk meredakan ketegangan bukannya memperpanas siutasi di sana,“ dikatakan Li Baodong.

Mengingkari Perjanjian

Bulan Februari lalu, Korea Utara dan Amerika Serikat menyepakati perjanjian untuk penghentian uji coba nuklir dan rudal serta pengayaan uranium. Sebagai imbalan, Korea Utara akan menerima bantuan kemanusiaan dari Amerika Serikat. Namun, perjanjian tersebut tampaknya tidak berlaku lagi setelah peluncuran roket Korea Utara. “Dalam situasi saat ini, kami tidak mungkin untuk terus melanjutkannya,“ dikatakan Hillary Clinton.

Kegagalan peluncuran roket ini juga menimbulkan kekhawatiran bahwa Korea Utara mungkin akan berusaha membayar kegagalan ini dengan melakukan tindakan yang lebih provokatif. Senin (09/04), intelejen Korea Selatan melaporkan bahwa Korea Utara tengah mempersiapkan percobaan nuklir mereka yang ke tiga.

Yuniman Farid (rtr/dpa/afp)