1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Kesenjangan Sosial di Eropa Makin Besar

Christoph Hasselbach10 Januari 2013

Komisi Eropa keluarkan laporan tentang situasi sosial yang makin buruk. Terutama kesenjangan antara kaya dan miskin makin besar. Pengangguran dan kemiskinan meluas di kawasan selatan.

https://p.dw.com/p/17GiC
Pengemis di Athena, Yunani
Pengemis di Athena, YunaniFoto: AP

Krisis ekonomi berkepanjangan membawa dampak buruk bagi Eropa. Angka pengangguran terus naik. Tidak hanya itu, mereka yang telah kehilangan pekerjaan makin sulit menemukan pekerjaan yang baru. Makin banyak orang sekarang terancam kemiskinan. Laporan tentang situasi sosial yang dikeluarkan Komisi Eropa jelas menunjukkan kecenderungan itu. Komisaris Eropa untuk urusan sosial, Laszlo Andor mengatakan dengan gamblang: ”Pendapatan keluarga terus turun dan risiko kemiskinan makin lama makin besar.”

Tapi situasi ini tidak menimpa semua kalangan masyarakat secara merata. Menurut Andor, yang menghadapi situasi sulit dan terancam kemiskinan terutama adalah orang muda, kaum wanita penganggur dan ibu yang membesarkan anak sendirian.

Pada awal krisis ekonomi, Komisi Eropa dan negara-negara anggota masih berharap pada sistem sosial yang diterapkan masing-masing negara. Sistem sosial ini diharapkan bisa meredam dampak buruk krisis ekonomi. Tapi karena ekonomi terus memburuk, pendapatan dari pajak juga turun. Bersamaan dengan itu, pengeluaran untuk bidang sosial terus naik. Banyak negara yang tidak mampu lagi memberikan bantuan sosial untuk melindungi warganya dari dampak krisis.

Perbedaan Besar Antara Utara dan Selatan

Saat ini, tidak mudah berbicara tentang kondisi umum di Uni Eropa. Karena situasi di negara-negara anggota jauh berbeda. Ini kenyataan yang menyedihkan bagi Eropa: Kawasan utara berkembang menjadi daerah dengan perekonomian yang relatif stabil, sedangkan kawasan selatan makin lama makin terpuruk. Misalnya saja tentang tingkat pengangguran: Menurut data statistik terakhir dari Eurostat, tingkat pengangguran di Austria hanya 4,5 persen. Tapi di Spanyol, tingkat pengangguran mencapai angka tertinggi 26,6 persen. Kalau dilihat situasi kaum mudanya, angkanya lebih buruk lagi. Di Spanyol dan Yunani, tingkat pengangguran remaja mencapai 50 persen. Artinya, satu dari dua remaja di dua negara itu tidak punya pekerjaan. Jadi diantara anggota Uni Eropa, ada kesenjangan yang sangat besar.

Komisaris Sosial Laszlo Andor menerangkan, salah satu masalah utama adalah kualifikasi yang salah atau tidak memadai. ”Di Eropa Selatan dan Timur, kualifikasi pekerja tidak sesuai dengan lowongan kerja yang ada. Situasinya sekarang malah memburuk.” Banyak negara berada dalam semacam lingkaran setan: pengangguran, pendapatan pajak negara turun, investasi menyusut, terjadi resesi yang mengakibatkan lebih banyak pengangguran. Sedangkan di Jerman, Perancis dan Polandia, pendapatan rumah tangga tahun 2012 malah naik.

Serikat Buruh Tolak ”Model Cina”

Kesenjangan yang terjadi di Uni Eropa membuat Komisi Eropa gelisah. Ini adalah perkembangan baru yang mencemaskan. Komisi Eropa mengusulkan agar segera dilakukan langkah-langkah untuk meningkatkan kualifikasi angkatan kerja. Selain itu, sistem sosial harus diperbaiki. Karena tingkat pengangguran tetap tinggi, dana sosial Eropa akan menjadi faktor yang sangat dibutuhkan.

Yang juga bisa membantu adalah menetapkan standar gaji minimum, sepanjang hal ini tidak merusak daya saing satu negara. Wakil Sekretaris Jendral Serikat pekerja Eropa ETUC menerangkan, ia setuju ada standar gaji minimum dan kualifikasi pekerja. Namun kepada Deutsche Welle ia mengkritik apa yang disebutnya ”langkah penghematan membabi-buta”. ”Reformasi pasar kerja tidak menciptakan lapangan kerja. Persaingan yang diciptakan dengan menerapkan gaji rendah sama saja dengan membawa model Cina ke Eropa. Tapi ini bukan yang kami inginkan.” Perhimpunan serikat buruh Jerman, DGB menuntut ”Marshall Plan untuk Eropa”. Kesenjangan sosial yang ada sekarang ini adalah dampak dari orientasi politik Uni Eropa menghadapi krisis saat ini.