1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Kesehatan

Vaksin Lawas Bisa Cegah Infeksi Covid-19?

15 April 2020

Ilmuwan melirik vaksin yang ditemukan beberapa dekade lalu sebagai proteksi terhadap Covid-19. Riset dilakukan sambil menunggu ditemukannya vaksin baru yang ampuh.

https://p.dw.com/p/3augk
Gambar ilustrasi vaksin corona
Foto: picture-alliance/dpa/Geisler-Fotopress

Riset vaksin lawas, yang ditemukan beberapa dekade silam, sebagai upaya memproteksi diri terhadap infeksi virus SARS-CoV-2 kedengarannya aneh. Pasalnya, vaksin biasanya didesain untuk menarget satu penyakit secara spesifik.  

Akan tetapi ada logika lain: vaksin dibuat dengan menggunakan strain hidup bakteri atau virus, dengan tujuan utama membangkitkan sistem pertahanan tubuh. Sebuah cara generalisasi untuk menjaga tubuh dari serangan patogen. Buku sejarah medis juga menunjukkan, kadang vaksin berfungsi memberikan perlindungan secara silang dengan melawan patogen yang sama sekali berbeda. 

Memang, sejauh ini belum ada bukti bahwa pendekatan medis ini akan mampu mendongkrak sistem kekebalan tubuh, sehingga mampu melawan virus corona jenis baru. Akan tetapi, menimbang penelitian dan pengembangan vaksin baru yang akan memakan waktu 12 hingga 18 bulan, sejumlah ilmuwan menyebutkan, kini saatnya untuk mencoba pendekatan ini guna mempercepat tes.  

Uji coba vaksin BCG 

Para ilmuwan di garis depan membidik vaksin tuberkulosis alias TBC. “Ini masih tahapan hipotesis. Tapi berfungsi. Itu bisa jadi alat bantu penting untuk menjembatani periode berbahaya, sampai kita memiliki vaksin spesifik yang efektif,” ujar Dr. Mihai Netea dari Radboud University Medical Center di Belanda.

Sejauh ini sudah lebih 1.500 petugas bantuan kesehatan Belanda mengikuti uji coba yang dilakukan tim medis yang dipimpin Dr. Netea. Riset memanfaatkan vaksin TBC yang dikenal dengan nama BCG, yang dibuat dari turunan bakteri TBC hidup yang dilemahkan.

BCG biasanya diberikan kepada bayi di negara berkembang, dan hanya memberikan proteksi parsial terhadap TBC. Namun riset observasi menunjukkan, saat memasuki masa kanak-kanak, mereka yang mendapat imunisasi, sistem kekebalan tubuhnya berkembang lebih bagus secara keseluruhan, termasuk melawan virus saluran pernafasan.

Tim yang dipimpin Netea pada 2018 mempublikasikan hasil tes langsung. BCG membangkitkan sistem pertahanan tubuh spektrum luas, yang sebagian bisa memblokir serangan virus lain yang diberikan secara eksperimental sebulan kemudian.

Australia juga mengikuti jejak Belanda dalam menguji coba vaksin BCG. Hingga saat ini sudah 700 pegawai di rumah sakit, mendapat suntikan vaksin BCG atau jadi sampel pembanding dengan diberi suntikan dummy. Targetnya hingga 4.000 pekerja di rumah sakit ikut uji coba tersebut. Beberapa negara lain termasuk AS juga merencanakan uji coba serupa.

Sebelumnya, World Health Organization (WHO) sudah mengeluarkan peringatan untuk tidak menggunakan vaksin TBC untuk melawan Covid-19, sampai penelitian membuktikan itu berfungsi efektif.

Vaksin polio oral

Kandidat kuat lainnya, vaksin polio oral yang dibuat dari virus hidup yang dilemahkan. “Global Virus Network yang bermarkas di Baltimore mengharapkan bisa melakukan uji coba dengan vaksin polio ini, dan saat ini sedang melakukan pembicaraan dengan pejabat kesehatan,” ujar Dr. Robert Gallo, salah satu pendiri perusahaan itu.

“Tes cepat diperlukan, untuk melihat apakah kemungkinan ada efek jangka panjang untuk gelombang kedua ini,” tambah Gallo yang memimpin Institute of Human Virology di University of Maryland School of Medicine. Juga peneliti di National Institutes of Health AS melakukan diskusi awal untuk membahas proposal terkait riset vaksin TBC dan polio, kata Jennifer Routh, juru bicara lembaga ini.

Bukti keampuhan vaksin polio oral melawan virus jenis lain, dipublikasikan di Uni Sovyet pada tahun 1970-an. Demikian diungkapkan Konstantin Chumakov, pakar vaksin di Food and Drug Administration (FDA), yang mewanti-wanti kepada AP, bahwa dia tidak berbicara mewakili lembaganya. Ibu Konstantin, ilmuwan Uni Sovyet ketika itu mempublikasikan hasil riset, kasus flu turun tajam setelah vaksinasi polio oral.

Juga ilmuwan Denmark menemukan sejumlah indikasi proteksi silang dari vaksinasi polio yang diteteskan ke mulut itu. Vaksin polio oral masih digunakan buat anak-anak di berbagai negara berkembang yang masih menghadapi penyakit lumpuh layu.

Tapi juga ada peringatan tegas terkait risetnya. “Vaksin hidup sangat berisiko untuk orang yang sistem kekebalan tubuhnya lemah. Jangan diuji coba melawan Covid-19 di luar kepentingan riset,” ujar Dr. Denise Faustman, pimpinan bagian imunobiologi di Massachusetts General Hospital, yang merencanakan penelitian dengan vaksin TBC.

Faustmann menegaskan, kita tidak bisa meluncurkannya begitu saja. “Tapi ini merupakan peluang emas untuk membuktikan atau menyangkal efek yang disasar,” ujar pakar imunobiologi itu.

Beragam jenis imunitas

Tujuan utama dari vaksin adalah memicu tubuh mengenali ancaman spesifik dan membuat antibodi untuk melawan balik, jika patogen yang sama menyerang lagi. Tapi tentu saja prosesnya perlu waktu.

Karena saat pertanda pertama ada infeksi, sel-sel darah putih yang ibaratnya serdadu di garis depan, akan melawan penyerang, inilah yang disebut imunitas bawaan. Setelah itu, tubuh akan memproduksi sistem pertahanan lain yang lebih spesifik, untuk membantu perang melawan patogen.

“BCG kelihatannya melakukan pemrograman ulang sel kekebalan bawaan, sehingga menjadi lebih siap memberantas bibit penyakit yang menyerang,” papar Dr. Mihai Netea peneliti vaksin BCG dari Belanda.

Sejumlah ilmuwan melontarkan asumsi, di negara-negara dengan populasi orang yang divaksin BCG cukup tinggi, kemungkinan bisa lebih baik melawan pandemi Covid-19. Namun WHO juga memperingatkan, terlalu dini untuk menarik kesimpulan, karena masih ada masalah dengan akurasi penghitungan jumlah yang terinfeksi dan tingkat kematian. 

as/ae (AP)