1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Sandi Uno: Pemerintah Harus Beradaptasi Dengan New Normal

Prihardani Ganda Tuah Purba
22 Mei 2020

Sandiaga Uno menyatakan, pemerintah RI di tengah pandemi corona saat ini harus mengambil kebijakan berdasarkan data dan sains, yang mengutamakan sisi kemanusiaan.

https://p.dw.com/p/3ccHg
Sandiaga Uno, pengusaha yang juga politisi
Foto: Getty Images/E. Wray

Istilah ‘New Normal’ atau normal baru telah menjadi sebuah topik yang kerap mengemuka di tengah pandemi COVID-19 yang kita alami saat ini. Banyak orang selalu mengaitkan kebiasaan atau rutinitas baru yang muncul di tengah pandemi sebagai sebuah gaya hidup baru yang harus dihadapi, bahkan setelah pandemi ini usai. Benarkah kita tidak akan kembali ke kebiasaan-kebiasaan lama kita atau new normal hanyalah jargon? Sandiaga Uno, salah satu tokoh publik sekaligus pengusaha nasional yang dalam beberapa kesempatan menggaungkan tentang hal ini berbagai pandangannya kepada DW Indonesia.

DW Indonesia: Apa yang membuat Anda yakin kita tidak akan kembali ke kebiasaan kita yang lama?

Sandiaga Uno: Saya yakin bahwa pandemi ini beda dari krisis kesehatan sebelumnya karena pandemi ini memiliki dampak yang luar biasa yang tidak pernah terjadi sebelumnya. 200 negara lebih terjangkit, 4 juta lebih populasi dunia terinfeksi, dan yang meninggal dunia juga sudah mendekati 300 ribu.

The New Normal ini kalau kita lihat pembicaraannya berawal setelah pascakrisis 2008/2009, di mana hanya terbatas dalam bisnis dan ekonomi tadinya. Tapi ini sekarang meluas, bicara new normal ini bukan hanya dari segi ekonomi, bisnis, keuangan tapi kita bicara mengenai wabah.

Meluasnya dalam aspek apa saja?

Kalau kita lihat wabah kali ini dari segi dampak ekonomi, sosial, kesehatannya sangat luar biasa. Ini sampai ke level individu, bahkan akan muncul sebuah generasi yang sangat unik, saya sebut sebagai generasi corona. 

Generasi corona ini adalah generasi unik yang memang lahir pada saat new normal. Mahasiswa-mahasiswa yang lulus tahun ini akan disebut sebagai wisudawan corona karena mereka tidak melakukan physical graduation, mereka tidak hadir sebagai seorang wisudawan yang diwisuda dengan metode sebelumnya tetapi berubah melalui virtual. 

Kita juga akan melihat banyak sekali perubahan-perubahan yang mendasar, dan ke depan ternyata new normal ini juga memicu suatu efisiensi dan memacu efektifitas dari cara kita bekerja dan saya yakin ini jadi perubahan yang baik buat kita di berbagai bidang termasuk di bidang lingkungan hidup.

New normal ini memicu kesadaran kita bahwa ternyata langit di Jakarta jadi biru, kemacetannya lebih bisa ditoleransi dan ternyata kita tidak terlalu perlu ke luar rumah kalau untuk berkegiatan, akan balik kepada kultur stay at home atau kultur yang meminimalisasi lalu lalang kita, mobilitas kita.

Menurut saya kita akan terus berbicara mengenai hal ini di tahun-tahun mendatang. Apakah kita akan kembali ke keadaan Januari atau awal Februari 2020? Saya rasa tidak. Menurut saya ini adalah realitas baru yang harus kita adaptasi menuju new normal.

Di tengah pandemi kali ini jutaan orang di PHK, berkaitan dengan new normal ini apakah mereka tidak akan mendapatkan pekerjaan mereka kembali?

Mereka akan beradaptasi dan mereka akan menemukan pekerjaan baru. Menurut saya lapangan pekerjaan yang baru ini akan lebih berkualitas, karena saya melihat dari sisi pertama, konsumsi dulu. Konsumi akan berubah secara total, ekonomi akan berbasis economy of needs, bukan economy of wants. Jadi, apa yang dibutuhkan itu lebih didahulukan daripada keinginan-keinginan yang sebetulnya bisa ditunda, karena salah satu konsep ke depan adalah pengelolaan keuangan yang lebih ketat, lebih disiplin. Bahwa kita belajar dalam pandemi ini, kita begitu terkapar, bahwa kita tidak memiliki cadangan yang cukup sebagai bisnis, sebagai individu, sebagai negara kita mengalami kesulitan yang berat sekali.

Kemungkinan terburuk dari pemodelan tim ekonomi internal kami menyatakan bahwa dalam skenario terburuk itu ada 15 juta PHK. Apakah pekerjaan itu akan hilang secara permanen? Mungkin saja. Tapi menurut saya, sebagian dari mereka akan direkrut kembali dalam pekerjaan mereka yang lama tapi dengan physical distancing, karena demand-nya berubah, supply-nya juga berubah. 

Karena ada keharusan social dan physical distancing, pabrik tidak akan serapat dulu lagi, pabrik-pabrik akan lebih berjarak dan akan meningkatkan efisiensi, efektifitas dari produksinya. Para pekerja ini akan menjadi bergantian, tidak lagi bekerja dari jam 9 pagi ke jam 5 sore atau 6 hari dalam seminggu, tapi mungkin dua hari masuk, dua hari libur, seperti itu. Itu adalah new normal juga, dan akan timbul pekerjaan-pekerjaan jenis baru. 

Kalau dulu pekerjaannya banyak sekali yang berkaitan dengan proses produksi, sekarang lebih berkaitan dengan bagaimana kita mencegah penyakit atau memastikan kita punya tingkat kesehatan yang tinggi. Jadi nanti pengeluaran kita untuk kesehatan ini akan sangat tinggi. 

Jadi mereka akan bergeser, ekonomi akan bergeser dan beradaptasi terhadap kondisi normal berikutnya. Sebagian industri itu akan kembali lagi, seperti misalnya pariwisata tetap akan kembali tapi juga menerapkan prinsip-prinsip baru sesuai dengan kaidah new normal tadi.

Tantangannya pasti akan banyak sekali, apa saja yang harus disiapkan?

Pertama mindset, bahwa kita harus bantu masyarakat untuk memiliki mindset yang lebih siap khususnya dari segi the new normal ini adalah digital. Karena semuanya akan beralih ke penerapan akselerasi dari penerapan industri 4.0, jadi kita harus siapkan generasi pekerja kita ke depan untuk menggeser literasi mereka terhadap teknologi, mereka harus betul-betul bisa mengadopsi teknologi.

Kedua, literasi mereka terhadap data. Ini sangat penting. Kita sekarang amburadul nih data kita mulai dari level individu, sampai ke level perusahaan, sampai ke level negara kita tidak punya literasi dan pengelolaan data yang mampu kita peras menjadi satu panduan di saat seperti sekarang. Jadi ke depan kita harus siapkan literasi terhadap data. 

Berikutnya literasi terhadap perilaku manusia, yaitu bagaimana kearifan lokal seperti silaturahim yang berubah masuk di silaturahim ala online ini, sampai kepada entrepreneurship. Karena kalau enterpreunurship ini kan kita bicara mengenai inovasi, bagaimana melihat bahwa ini adalah peluang justru kita harus mengambil risiko, dan juga bagaimana kita proaktif. Inilah yang harus kita siapkan .

Tapi menarik ini kalau saya tambahkan ini dari level individu sampai level negara. Individu, pengetahuan kita tentang kesehatan tiba-tiba meningkat luar biasa, kita dapat informasi yang kalau boleh dibilang kebanjiran informasi. Tentang kebersihan pribadi, nyuci tangan nanti perusahaan-perusahaan memproduksi hand sanitizer, sabun, cairan disinfektan, penggunaan masker, face mask sudah akan jadi aksesori wajib. Jadi ini akan meningkat drastis, fashion statement adalah face mask

Dunia bisnis juga harus menyesuaikan. Ada bisnis-bisnis yang sudah tidak relevan lagi di new normal, mereka harus melihat sektor mana saja yang terganggu, mana yang potential winning sectors, mana yang potential loser sectors, yang losers adaptasi melalui teknologi, seperti pariwisata, manufacturing, otomatif, dsb.

Menariknya, pemerintah juga harus beradaptasi terhadap new normal. Selama ini pemerintah berpikir bahwa mereka hanya bekerja membuat peraturan dan mereka memerintah, tapi ternyata sekarang kita melihat bahwa dalam keadaan sekarang pemerintah itu adalah hanya bagian daripada co-creator, mereka adalah bagian daripada satu sinergi ekosistem yang memfasilitasi, bahwa mereka harus melihat ke depan, rasional dan harus berbasis data, harus berbasis sains, harus mengambil kebijakannya itu data driven. Nah ini harus ada kerja sama yang efektif antara beberapa pihak, yang diutamakan tentunya sisi kemanusiaan.

Wawancara untuk DW Indonesa dilakukan oleh Prihardani Ganda Tuah Purba pada tanggal 12 Mei 2020, dan telah diedit sesuai konteks.