1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pasukan Keamanan Berjaga di Myanmar Utara

Edith Koesoemawiria29 Mei 2013

Myanmar Utara kembali tenang (Rabu 29/5) setelah bentrokan warga Muslim dan Buddha yang meninggalkan beberapa kawasan kota Lashio hangus.

https://p.dw.com/p/18gAm
Foto: AFP/Getty Images

"Situasi di Lashio sudah tenang kembali dan tidak ada korban tewas“, begitu dinyatakan jurubicara presiden, Ye Htut. Ungkapnya juga, organisasi agama dan sosial kini bekerja sama dengan pemerintah untuk menghindari kekerasan lebih jauh.

Televisi nasional MRTV melaporkan, sebuah masjid, pesantren dan sejumlah toko habis terbakar oleh sekelompok masyarakat Buddha di Lashio, negara bagian Shan.

Zusammenstoß Buddhisten Muslime Myanmar Lashio
Bentrok di LashioFoto: picture-alliance/AP Photo

Jam malam diberlakukan untuk menjaga keamanan, namun ketegangan antar warga Buddha-Muslim tak begitu saja surut. Kerusuhan terakhir menggaris bawahi masalah yang dihadapi pemerintahan Presiden Thein Sein yang mendorong reformasi. Keterbukaan demokrasi juga membuka pintu untuk meruncingnya ketegangan yang tersekam dibawah rejim militer sebelumnya.

Kerusuhan Selasa (28/05/13) dipicu pertengkaran antara Aye Aye Win, pedagang minyak perempuan berusia 24 tahun dan Ne Win, lelaki Muslim berusia 48 tahun. Ne Win menyiramkan bensin ke kepala Aye Aye Win dan menyulutnya. Menurut MRTV, Aye Aye Win berhasil dilselamatkan dan dilarikan ke rumah sakit.

Myanmar Menschen
Foto: imago stock&people

Setelah polisi menahan Ne Win, sekelompok orang Buddha mengepung kantor polisi dan menuntut agar Ne Win diserahkan kepada mereka. Polisi menolak dan menurut saksi masa, masa lalu bergerak ke arah pasar Lashio dan membakar masjid Myoma.

Konflik warga terparah terjadi di negara bagian Rakhine tahun lalu. Warga Buddha memerangi komunitas muslim Rohingya yang minoritas. Ketika itu sedikitnya 190 orang tewas dan 140 ribu orang mengungsi.

ek/ml (rtr/dpa/afp)