1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Memberi Suaka Pada Pelarian Politik

Fraczek, Jennifer17 Juni 2013

Bekas anggota CIA Edward Snowden bersembunyi di Hongkong. Banyak negara bersedia memberi suaka kepada para pelarian politik. Apa motivasinya?

https://p.dw.com/p/18pRf
A picture of Edward Snowden, a contractor at the National Security Agency (NSA) June 13, 2013
Edward SnowdenFoto: Reuters

Bekas anggota CIA Edward Snowden, pendiri Wikileaks Julian Assange, aktivis HAM China Chen Guangcheng, mereka adalah beberapa tokoh politik yang mencari perlindungan di negara lain, untuk menghindari ancaman hukuman.

Snowden bersembunyi di Hongkong ketika membocorkan rahasia intelijen AS. Sedangkan Assange dan Chen melarikan diri ke kedutaan besar negara lain. Chen sempat bersembunyi di Kedutaan Besar AS di Beijing. Setelah perundingan alot, ia akhirnya diijinkan pergi bersama keluarganya ke Amerika Serikat.

Julian Assange, pendiri situs Wikileaks, sejak satu tahun berlindung di Kedutaan Besar Ekuador di London. Di Swedia ia dituduh melakukan perkosaan. Swedia lalu mengeluarkan perintah penangkapan. Tapi Assange khawatir, pemerintah Swedia akan menyerahkan dirinya kepada Amerika, karena ia membocorkan ribuan dokumen rahasia AS di Wikileaks.

Setiap Negara Bisa Menentukan Sendiri

Ekuador memutuskan untuk memberi perlindungan kepada Assange. „Pada prinsipnya setiap negara bebas menentukan sendiri, akan memberikan perlindungan suaka kepada siapa. Kecuali kalau ada perjanjian internasional yang mewajibkan atau melarang“, papar ahli hukum Thilo Marauhn dari Univertas Giessen kepada Deutsche Welle.

Police gather outside the Ecuador embassy in west London, August 16, 2012.
Kedutaan Besar Ekuador di LondonFoto: Reuters

Maksudnya, jika sebuah negara menandatangani Konvensi Jenewa Untuk Pengungsi, lalu ada orang yang mengalami penindasan karena keyakinan politiknya, maka permohonan suaka wajib dipenuhi. Tapi jika negara itu tidak ikut Konvensi Jenewa, atau yang bersangkutan bukan pengungsi politik, maka tidak ada kewajiban seperti itu. Kalau mau, negara itu bisa memberi perlindungan suaka secara sukarela.

Hal lain yang penting adalah, apakah ada perjanjian ekstradisi. Antara Amerika Serikat dan Hongkong misalnya, ada perjanjian ekstradisi. Menurut perjanjian itu, Hongkong bisa menolak permohonan ekstradisi dari Amerika Serikat, jika Edward Snowden di Amerika Serikat akan mengalami penindasan karena keyakinan politiknya.

Instrumentalisasi Politik

Mengapa negara-negara yang tergolong otoriter, seperti Ekuador, mau memberi perlindungan suaka kepada orang lain? Para pengamat politik menilai, dengan langkah ini, negara itu ingin memperbaiki citranya. „Biasanya negara-negara demokratis menampung pelarian politik dari Cina, Myanmar, Rusia atau negara otoriter lain. Tapi kalau negara otoriter menampung pelarian politik dari negara demokratis, mereka ingin menunjukkan, lihat, kebebasan di negara kalian tidak ada“, kata pengamat politik Silke Tempel dari yayasan DGAP kepada DW.

Pemberian suaka politik terhadap tokoh terkenal atau bekas penguasa sering jadi instrumen politik. Misalnya kasus bekas penguasa Jerman Timur Erich Honecker. Akhir 1991 ia mendapat perlindungan di Kedutaan Besar Chili di Moskow selama setengah tahun. Setelah perundingan alot, ia akhirnya diserahkan kepada pemerintah Jerman.

Kasus unik lainnya adalah bekas juara catur dunia Bobby Fischer dari Amerika Serikat, yang meninggal tahun 2008 di Islandia. Pada hari tuanya, Bobby Fischer menjadi seorang yang anti Amerika. Pemerintah Amerika sempat membekukan paspornya. Bobby Fischer berpindah-pindah negara dan terancam diekstradisi ke Amerika Serikat. Ia akhirnya mendapat perlindungan suaka di Islandia. Tapi pemerintah Islandia menegaskan, ia mendapat perlindungan sebagai tanda solidaritas kepada seorang bekas juara catur dunia, jadi bukan karena pandangan politiknya.

** FILE ** Chess star Bobby Fischer is seen in New York, in this April 28, 1962 file photo.
Bekas juara catur dunia Bobby Fischer (foto tahun 1962).Foto: AP