1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pendidikan

Kuasai Abad ke-21 dengan Belajar Coding

Arti Ekawati
12 Desember 2019

Kurie Suditomo, pendiri sekolah coding di Indonesia, berbicara ketimpangan akses penguasaan teknologi oleh anak Indonesia dan pentingnya kemampuan pengoperasian komputer secara individual untuk beradaptasi di abad ke-21.

https://p.dw.com/p/3UcZG
DW Shift - Netzwerker Karlie Kloss
Foto: DW

Pemerintah Indonesia saat ini sedang gencar melibatkan teknologi digital di segala bidang, utamanya bidang industrialisasi. Untuk meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global, salah satu kementerian yaitu Kementerian Perindustrian juga meluncurkan peta jalan yang disebut sebagai Making Indonesia 4.0 Roadmap. Ini akan termasuk konektivitas teknologi dan pembangunan infrastruktur digital nasional.

Akan tetapi apakah ambisi nasional ini juga diikuti dengan pendidikan yang memadai di bidang komputasi yang merupakan dasar teknologi digital?

Kurie Suditomo pendiri codingcamp.id, lembaga yang memberikan pelatihan digital bagi anak usia 9 hingga 17 tahun, mengakui masih banyak salah kaprah yang memahami komputer hanya sebagai alat. Padahal, ilmu komputasi memiliki logika berpikir tersendiri.

DW Indonesia mewawancarai Kurie Suditomo tentang pentingnya mempelajari logika komputer, utamanya bagi anak usia sekolah.

Deutsche Welle: Bagaimana Anda melihat pendidikan coding di Indonesia apakah sudah cukup merata?

Kurie Suditomo: Indonesia masih jauh dari situ. Kalau kita mau berharap Indonesia ikut antusiasme dangan belajar coding itu hanya bisa terjadi di kelas sosial tertentu. Saya sudah 6 tahun di bidang ini tapi masih harus terus melakukan warming up market karena orang tua di kalangan menengah atas juga belum secepat ini menangkapnya. Memang selalu ada pihak-pihak yang menyambut jasa pelajaran coding bagi anak-anak, tapi belum seheboh yang terjadi di Cina atau Inggris misalnya yang sudah wajibkan coding bagi anak SD. Atau seperti di Amerika Serikat yang muncul dengan gerakan code.org atau di Estonia karena dulu perdana menterinya mantan programmer. Jauh sekali, realitanya adalah infrastruktur kita belum siap, marketnya belum panas, karena supply-nya juga belum cukup, guru-guru yang bisa mengajarkan coding kepada anak-anak juga belum terbentuk.

Hanya negara yang bisa melakukan pendekatan yang masif. Kalau macam saya gini kita puas dengan hal-hal yang sifatnya organik saja. Kita bikin acara, happy, anak-anak terlibat, antusias tapi berapa anak sih yang bisa terlibat? Paling 1.000-2.000, itu sedikit sekali dibandingkan dengan jutaan anak yang berusia di bawah 17 tahun di Indonesia.

Kurie Suditomo Gründerin codingcamp.id.
Kurie Suditomo, pendiri codingcamp.idFoto: privat

Kita-kita yang (mengajarkan coding secara) organik ini akan terus ada, tapi apakah akan berkembang menjadi sesuatu yang besar dan masif? Saya tidak bisa lakukan tanpa ada campur tangan dari negara. Minimal negara itu membantu bentuk narasi bahwa coding itu bermanfaat untuk mengasah logika di usia sekolah dasar misalnya. Nah mereka warming up di situ dengan bantu bangun narasi dan komunikasikan itu ke publik. Namun, untuk sampai ke sini juga tidak mudah karena kita juga harus bersaing dengan masalah pendidikan lain yang dihadapi Kemendikbud.

Apa saja kendalanya?

Kita punya masalah dengan kualitas guru yang tidak rata. Anak-anak kita mendapatkan akses ke dalam perkembangan teknologi yang sangat cepat sementara secara formal guru-guru itu sangat ketinggalan karena banyak faktor. Misalnya gurunya tidak berasal dari kelas sosial yang sama dengan anak-anaknya sehingga (informasi) yang anak-anak konsumsi berbeda dengan yang dia konsumsi. Alat yang dipakai anak-anak berbeda dengan yang dia pakai, dan wawasan juga berbeda. Ini yang secara realita terjadi.

Apa dukungan pemerintah sudah memadai?

Yang membuat situasi di Indonesia menjadi lebih menantang adalah tahun 2013 pelajaran Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK) itu dicabut dari kurikulum nasional. Itu membuat situasi jadi lebih sulit karena begitu dicabut dari kurikulum nasional, sumber daya yang mendukung untuk ilmu komputer tetap ada baik itu komputernya, ruangannya atau alokasi pendanaan bagi gurunya itu dicabut semua. Dan yang paling menderita karena kebijakan itu sebenarnya sekolah negeri.

Baca jugaPotret Pendidikan Indonesia di Tengah Perkembangan Teknologi

Jadi ilmu komputer dijadikan pilihan ada sekolah yang melanjutkan pemberian pelajaran ada yang tidak. Nah sekolah-sekolah swasta mereka tidak mau kehilangan itu. Semua laboratorium komputer tetap ada dan digunakan, meski menjadi pilihan tapi anak-anak tetap dikasih (pendidikan komputer) entah metode apa.

Tapi beberapa sekolah negeri yang saya tanya-tanya, memang ini bukan riset, ada satu SD Negeri di Ciputat, kita pernah bikin kelas coding dengan undang beberapa perwakilan dari SD lokal terus kita tanya kamu punya komputer ngga, mereka bilang: ngga, dulu ada tapi sekarang komputernya sudah tidak ada, sudah dicabutin. Artinya ruangan itu dipakai untuk hal lain dan komputernya dipakai untuk administrasi guru atau kebutuhan lain.

Ini 'kan jadinya semakin tidak berpihak. Bayangkan kalau anak-anak yang sekolah negeri ini di rumah tidak ada komputer di sekolah tidak ada komputer lalu mereka belajar dari mana? Alasannya (pemerintah) karena komputer itu seharusnya sudah tergabung di semua mata pelajaran. Jadi misalnya seperti matematik, IPA, IPS pakai komputer, jadi komputer tidak dilihat sebagai suatu keilmuan tetapi sebagai sebuah alat. Saya tidak mengerti bagaimana dasar berpikirnya bisa ke situ.

Seberapa timpang akses terhadap infrastruktur dan pendidikan coding?

Sekarang ini lebih fokus di Jakarta. Bukan berarti Indonesia tidak punya programmer, Indonesia banyak sekali programmer dan dunia IT kita juga tidak kalah, kita juga punya banyak prestasi, ada di Surabaya, Jogja, dan lainnya. Tapi untuk memberlakukan pengajaran coding di sekolah, itu 'kan masalah lain lagi. Orang bisa jadi programmer yang bagus tapi belum tentu bisa mengajarkan coding.

Baca juga: Belajar Coding Sedang Tren Bagi Anak-anak di Cina, Bagaimana Dengan Indonesia?

Saya pernah ada pengalaman, di kampung-kampung itu mereka gemetar pegang mouse, laptop itu dielus-elus. Mereka mungkin lihat saja di televisi tapi tidak pernah benar-benar pegang. Yang seperti itu masih banyak di Indonesia. Kalau sekarang saya buka kelas untuk middle upper class itu ya biasa saja, tapi adaptasi komputer itu justru lebih dibutuhkan di middle lower.

Komputer itu 'kan ibarat pensil buat anak-anak saya, tapi buat yang anak-anak di tempat lain itu bisa bayangkan ibarat belajar nulis tapi pakai pensilnya bergantian, dibagi-bagi misalnya 10 anak pegang satu pensil terus latihan. Yang seperti ini masih terjadi di banyak daerah.

Lalu ada yang debat dengan saya dan mengatakan tapi mereka punya ponsel, bahwa ponsel sudah di mana-mana. Saya katakan, iya ponsel itu alat untuk konsumsi. Orang dengan sendirinya akan mencari ponsel, tapi komputer itu alat produksi. Tidak bisa begitu saja pindahkan komputer ke ponsel, itu mesti dibantu dan ini proses yang memakan waktu.

Apa yang perlu dilakukan?

Banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan jika kita ingin memasifkan pendidikan coding di Indonesia. Saya sebenarnya tidak tega berbicara coding karena ini masih barang mewah untuk anak sekolah rata-rata. Bahkan di level SMK saja kepemilikan laptop masih sangat rendah. Tanpa orang memiliki laptop dan mengoperasikan laptop secara individual orang akan sulit beradaptasi dengan abad 21. 

Apa yang sebenarnya diajarkan di sekolah coding?

Ilmu komputer itu bukan sekadar bisa pakai Microsoft Office misalnya, tapi ada ilmu komputasi yang sebenarnya lebih dari sekadar penggunaan komputer. Artinya selama ini kita cuma tahu komputer sebagai alat. Tapi cara berpikir sebagai komputasi itu yang tidak pernah diajarkan sama sekali.

Ilmu komputasi berbasis logika. Bisa dajarkan dari mulai anak usia tiga tahun. Misalnya kita jalan dari rumah ke warung, bagaimana caranya? 'Kan kita harus bangun dulu dari tempat tidur. Lalu melangkah berapa jauh ke pintu? Butuh empat langkah. Ke kiri atau kanan? Oh ke kiri, lalu apa itu ke kiri? Oh itu berarti 180 derajat dari tempat kamu tiduran. Logika-logika itu yang dipakai untuk mendekatkan cara berpikir komputasi dengan kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Gamescom: Giring Ganesha "Nidji" Senang Industri Game Didukung Pemerintah

Inisiatif coding yang organik seperti saya ini punya tujuan yang berbeda-beda, kalau saya pribadi di codingcamp, yang saya kejar ada dua, pertama yaitu mengasah logika anak dan kedua adalah beradaptasi dengan komputer secara keseluruhan jadi bukan cuma main game atau sekadar pencet-pencet tombol. Tapi bagaimana supaya anak jadi mengerti pekerjaan komputasi dari awal dari dia input, dari dia pecah-pecah kode.

Bagi Anda pribadi, apa yang menjadi ukuran keberhasilan dari pelatihan coding ini?

Di mana titik keberhasilan saya? Saya cuma ingin mencari rasa kepercayaan diri dalam diri anak. Begitu dia percaya diri dengan produknya, begitu dia percaya diri dengan proses belajar, begitu dia bisa mengatakan: "Wah Kakak payah nih Kak coding-nya" dan dia bisa pakai mesin pencarian untuk coding, itu selesai. Itu artinya dia sudah siap untuk belajar hal lain. Apa yang dia pelajari selanjutnya ya terserah, tidak bisa lagi kita tentukan belajar apa.

Saya bahkan tidak berupaya mengarahkan anak supaya misalnya jadi programmer, tapi bahwa dia percaya diri untuk menggunakan komputer sebagai sebuah engine, dia tahu apa yang mau dia pelajari dan dia tahu harus ke mana mencarinya, itu tujuan saya. Dan untuk menuju situ saja banyak anak Indonesia yang masih belum punya akses.

 

Wawancara untuk DW Indonesia oleh Arti Ekawati dan telah diedit sesuai konteks.