1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Indonesia Buka Suaka Badak di Ujung Kulon

27 Desember 2013

Indonesia bakal meresmikan kawasan suaka badak di Ujung Kulon. Badak Jawa diperkirakan kini tinggal berjumlah 50-an ekor.

https://p.dw.com/p/1AhJK
Foto: picture-alliance/dpa

Jejak di antara semak belukar itu dipenuhi dedaunan berwarna cokelat. Cetakan kaki berkuku tiga yang membekas di atas lumpur dan bekas gigitan pada dedaunan menandakan satu hal, seekor badak baru saja lewat.

Buat kebanyakan orang, melihat jejak semacam itu adalah satu-satunya cara mengetahui keberadan badak Jawa, jenis badak yang paling langka di dunia. Jumlah badak yang oleh penduduk lokal disebut Abah Gede itu, diperkirakan hanya tersisa 50 ekor, semuanya hidup di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Kini pakar konservasi berharap suaka badak pertama di Indonesia yang bakal dibuka dalam beberapa bulan kedepan dapat menyelamatkan hewan langka itu dari jurang kepunahan. Mahluk pemalu berkulit tebal yang terlihat seperti jubah besi itu dulu berjumlah ribuan dan tersebar di seluruh Asia Tenggara.

Sembilan Badak Dewasa

Badak Jawa mengalami nasib serupa seperti jenis serupa di seluruh dunia. Aktivitas manusia yang merusak habitatnya membuat populasi badak menurun dramatis. Suaka badak yang akan dibuka pemerintah mencakup 5.100 hektar hutan, sungai dan kubangan lumpur di taman nasional yang sejak 1992 ditahbiskan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO tersebut.

Renancanya kawasan suaka akan diresmikan Maret depan. Kendati begitu pihak taman nasional meyakini, berdasarkan jejak kaki dan bebas gigitan terdapat sembilan ekor badak jawa yang sudah menetap di kawasan konservasi.

"Artinya upaya kami mengubah kawasan suaka ini menjadi habitat alami buat mereka berhasil," kata Manajer Taman Nasional Ujung Kulon, Rusdianto. Ke-sembilan ekor badak jawa itu saat ini tinggal di salah satu sudut taman. kawasan konservasi yang baru akan diperluas dengan merelokasi petani yang tinggal di wilayah sekitar untuk mencegah konflik satwa dan manusia.

Pagar Listrik dan Flora Pendukung

Wilderei Nashornjagd
Badak korban perburuanFoto: BIJU BORO/AFP/GettyImages

Sebagai langkah pengamanan, pihak taman nasional memasang pagar listrik yang mengelilingi kawasan suaka untuk mencegah pemburu. Manajemen Taman Nasional juga berencana membudidayakan tanaman dan buah-buahan yang menjadi makanan badak bercula satu itu.

"Kami berharap kawawasan suaka ini bisa mempercepat perkembangbiakan dan mendorong lebih banyak kelahiran binatang langka ini," kata Kepala Taman Nasional, Moh. Haryono. "Di kawasan tertutup, badak badak betina dan jantan akan mudah bergerak dan kawin secara bebas.

Pengelola Taman Nasional Ujung Kulon mengatakan ada 51 badak pada 2012, termasuk delapan anak badak, berdasarkan perkiraan dari gambar-gambar yang tertangkap kamera tersembunyi. Mereka berharap jumlah yang sebenarnya ada di angka 70an.

rzn/ml (afp,dpa)