1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

HRW: Pemimpin Demokratis Harus Tegak Hadapi Para Autokrat

14 Januari 2022

Para pemimpin demokratis Barat belum cukup membela demokrasi, kata organisasi Human Rights Watch (HRW) dalam laporan tahunannya. Dia memperingatkan kebangkitan autokrasi yang memanfaatkan berbagai situasi krisis.

https://p.dw.com/p/45XT3
Foto ilustrasi konferensi pers Human Rights Watch (HRW)
Foto ilustrasi konferensi pers Human Rights Watch (HRW)Foto: John MacDougall/AFP/Getty Images

Kegagalan para pemimpin demokratis untuk secara efektif memperjuangkan nilai-nilai dan hak-hak demokrasi memungkinkan munculnya autokrat di seluruh dunia, kata Direktur Human Rights Watch (HRW) Kenneth Roth dalam sebuah wawancara dengan kantor berita AFP. HRW hari Kamis (14/1) merilis laporan tahunannya yang menyoroti situasi pelanggaran hak asasi di seluruh dunia.

"Kekhawatiran kami adalah jika para pemimpin demokratis tidak bangkit.. dan menunjukkan jenis kepemimpinan visioner yang dibutuhkan hari ini", ketika dunia menghadapi berbagai persoalan besar seperti pandemi dan perubahan iklim. Dia mengatakan, kegagapan para pemimpin demokratis bisa "menghasilkan semacam keputusasaan dan frustrasi yang merupakan lahan subur bagi para autokrat."

Laporan tahunan HRW setebal lebih dari 750 halaman itu merinci peningkatan tindakan keras terhadap suara-suara oposisi terutama di negara-negara autokratis seperti Cina, Rusia, Belarusia dan Mesir.

Laporan itu juga menyoroti beberapa kudeta militer baru-baru ini, termasuk di Myanmar dan Sudan, dan munculnya pemimpin dengan kecenderungan autokratis di negara-negara yang pernah atau masih dianggap demokrasi, seperti Hongaria, Polandia, Brasil, India, dan hingga tahun lalu, Amerika Serikat.

Direktur Elsekutif HRW Kenneth Roth ketika memperkenalkan laporan tahunan di New York tahun 2021
Direktur Elsekutif HRW Kenneth Roth ketika memperkenalkan laporan tahunan di New York tahun 2021 Foto: Johannes Eisele/AFP/Getty Images

Kebutuhan mendesak mempertahankan demokrasi

Meskipun upaya mantan Presiden AS Donald Trump dan sekutunya untuk membatalkan hasil pemilu 2020 gagal, Kenneth Roth memperingatkan bahwa demokrasi AS masih mengalami tantangan besar. Serangan para pendukung Trump ke Capitol tahun lalu "baru awalnya saja", Kenneth Roth.

Kerusuhan 6 Januari adalah "upaya yang gagal untuk membatalkan pemilihan, dan sekarang upaya yang jauh lebih canggih sedang dilakukan, yang menargetkan pemilihan presiden berikutnya," tambahnya. "Ada kebutuhan mendesak untuk mempertahankan demokrasi di Amerika Serikat."

Namun Kenneth Roth juga tidak setuju dengan pandangan bahwa "autokrasi saat ini sedang naik dan demokrasi sedang menurun". Dia menjelaskan, banyak autokrat pada kenyataannya menemukan diri mereka dalam posisi yang semakin rentan.

Kenneth Roth juga menyoroti munculnya aliansi luas dari partai-partai politik yang sangat berbeda untuk bersatu menggulingkan "autokrat yang korup", seperti di Republik Ceko dan Israel. Dan dia menunjuk pada demonstrasi besar-besaran pro-demokrasi dan gerakan pembangkangan sipil besar-besaran, bahkan di negara-negara dengan rezim militer brutal seperti Myanmar dan Sudan, meskipun ada risiko penahanan atau ditembak.

"Ada pertempuran yang sedang berlangsung dengan perlawanan yang sangat signifikan terhadap mereka yang ingin menerapkan kembali, atau melanggengkan otokrasi," kata Kenneth Roth. Dalam menghadapi perlawanan yang meningkat, para autokrat yang sebelumnya berusaha untuk berpura-pura menjaga proses demokrasi, akhirnya menunjukkan wajah sebenarnya dan berhenti berpura. Perkembangan di Rusia, Hong Kong, Uganda dan Nikaragua menunjukkan, bagaimana penguasa mengklaim menyelenggarakan pemilu demokratis namun secara terang-terangan menyingkirkan semua oposisi, melarang media independen dan membungkam protes, kata Kenneth Roth.

Pemimpin demokratis harus bangkit

Meskipun mereka mungkin menang pemilu, "pemilihan zombie" seperti itu tidak "memberikan legitimasi apa pun seperti yang mereka car," katanya.

Tetapi saat ini, lanjutnya, banyak pemimpin yang dipilih secara demokratis gagal untuk menunjukkan prinsip dan kepemimpinan yang diperlukan untuk menunjukkan manfaat demokrasi, kata Kenneth Roth. "Ada kebutuhan mendesak untuk pemerintahan yang lebih baik dalam demokrasi, (dan) pendekatan yang lebih konsisten untuk membela hak asasi manusia di seluruh dunia."

Mengambil contoh Amerika Serikat dan bayak negara demokrasi Barat, dalam hubungan dengan "pemerintahan represif" dari negara sahabat seperti Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab atau Israel, "kebijakan luar negerinya terlihat cukup konvensional". Dia mengakui, Presiden Joe Biden dan para pemimpin demokratis lainnya telah mengambil "langkah-langkah sederhana", tetapi itu saja belum cukup, Kenneth Roth memperingatkan, apa yang telah dilakukan "tidak cukup untuk menghadapi tantangan-tantangan besar" dan untuk memukul mundur autokrasi.

hp/vlz (afp, ap, rtr)