1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Hak Istimewa bagi Lumba-lumba di India

Saroja Coelho 29 Mei 2013

India mengakui spesies Cetacea, seperti lumba-lumba dan paus pembunuh, sebagai pribadi non-manusia, yang memiliki hak hidup dan kebebasan. Akibatnya akuarium laut di berbagai penjuru negeri akan ditutup.

https://p.dw.com/p/18gHH
Foto: Fotolia/davidpitu

Kementerian Lingkungan dan Kehutanan India menganjurkan pemerintah pusat untuk melarang dolphinarium yakni akurium untuk lumba-lumba serta pusat hiburan komersial lain yang melibatkan penangkapan dan memasukkan spesies Cetacea seperti paus pembunuh dan lumba-lumba ke dalam kurungan. Dalam sebuah pernyataan, pemerintah menegaskan hewan Cetacea "harus dipandang sebagai 'pribadi non-manusia' dan karena itu harus memiliki hak-hak khusus sendiri."

Langkah ini diambil setelah berminggu-minggu unjuk rasa digelar memprotes dolphinarium di negara bagian Kerala dan sejumlah fasilitas hiburan mamalia laut lain yang rencananya dibangun tahun ini.

Pejabat India menilai eksploitasi hewan Cetacea untuk hiburan komersial tidak dapat diterima secara moral
Pejabat India menilai eksploitasi hewan Cetacea untuk hiburan komersial tidak dapat diterima secara moralFoto: AP

India menjadi negara keempat di dunia yang melarang penangkapan dan impor Cetacea dengan tujuan hiburan komersial - setelah Kosta Rika, Hongaria dan Chile.

Lumba-Lumba Adalah Individu

Gerakan mengakui paus dan lumba-lumba sebagai individu dengan kesadaran diri dan serangkaian hak meraih momentum tiga tahun lalu di Helsinki, Finlandia saat kalangan peneliti dan pakar etika merancang Deklarasi Hak-hak Cetacea. "Kami meneguhkan semua Cetacea sebagai pribadi yang memiliki hak untuk hidup, kebebasan dan kesejahteraan," tulis mereka.

Penandatangan dokumen termasuk ilmuwan laut ternama Lori Marino yang menghasilkan bukti bahwa Cetacea mempunyai otak yang besar dan kompleks, terutama di areal yang mengatur komunikasi dan kesadaran. Risetnya menunjukkan bahwa lumba-lumba memiliki tingkat kesadaran diri layaknya manusia. Lumba-lumba mampu mengenali refleksi mereka sendiri, menggunakan alat dan mengerti konsep-konsep abstrak. Mereka mengembangkan siulan unik sehingga teman dan anggota keluarga dapat mengenali mereka, serupa dengan manusia yang menggunakan nama.

Tapi kemampuan ini juga yang membuat mereka mampu mempelajari trik dan membuai penonton sehingga paus dan lumba-lumba menjadi favorit dalam program hiburan akuarium laut di seluruh dunia.

Pembantaian Dunia Laut

Pendapatan warga di India telah meningkat sehingga pasar untuk hiburan juga ikut tumbuh. Proposal dolphinarium tengah dipertimbangkan di Delhi, Kochi dan Mumbai.

Kelas menengah India yang terus tumbuh kini haus akan hiburan
Kelas menengah India yang terus tumbuh kini haus akan hiburanFoto: Arif Ali/AFP/Getty Images

"Mayoritas lumba-lumba dan paus dalam kurungan ditangkap di Jepang, di Karibia, di Kepulauan Solomon dan Rusia. Penangkapannya penuh kekerasan," jelas Puja Mitra dari Federasi Organisasi Perlindungan Hewan India (FIAPO).

"Mereka menggiring kelompok lumba-lumba menuju wilayah teluk yang dangkal dan memilih para betina yang berbadan mulus dan dinilai cocok untuk dipertontonkan. Sisanya dibantai."

Mitra berargumen bahwa pengalaman berada dalam kurungan bagi hewan Cetacea setara dengan siksaan. Ia menjelaskan bahwa paus pembunuh dan lumba-lumba lainnya bernavigasi menggunakan sinyal sonar, tapi di dalam akuarium gemanya terpantul oleh dinding sehingga menyebabkan tekanan besar bagi mereka. Lumba-lumba dalam akuarium tak jarang membenturkan kepala ke dinding dan paus pembunuh kehilangan gigi karena mereka berusaha menarik jeruji atau menggigit pembatas.

Sebagai respon terhadap larangan yang baru berlaku, Otoritas Pengembangan Kochi (CGDA) menarik lisensi bagi dolphinarium di Kochi, yang menjadi lokasi demonstrasi hak-hak hewan secara besar-besaran dalam beberapa bulan terakhir.

"Sekarang menjadi ilegal," ujar N. Venugopal, yang mengepalai CGDA. "Kini sudah berakhir. Kami tidak akan memperbolehkannya lagi."