1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Cemaskan Gelombang Serangan Teror Baru

7 Januari 2010

Politik dari presiden Barack Obama tidak dapat menghentikan aksi teroris. Kini di AS kembali merebak ketakutan akan ancaman serangan teror baru.

https://p.dw.com/p/LNvC
Ground Zero merupakan bukti kegagalan dinas rahasia AS deteksi dini serangan teror. Presiden Obama kini beberkan secara terbuka kegagalan sistem dinas rahasia negaranya.Foto: DW/AP/Bilderbox.de

Serangan teror yang gagal terhadap sebuah pesawat terbang AS di Detroit dan kegagalan dinas rahasia AS mendeteksi rencana serangan tsb tetap menjadi tema komentar dalam tajuk sejumlah harian internasional.

Harian konservatif Spanyol ABC yang terbit di Madrid dalam tajuknya berkomentar: Ekstrimis fanatik asal Nigeria yang berhasil menyelundupkan bahan peledak ke dalam sebuah pesawat terbang tujuan Detroit, bukan hanya mengganggu liburan Natal presiden Obama. Tapi juga membongkar kelemahan dinas rahasia negara adi daya paling berkuasa di dunia itu. Setahun lamanya digembar-gemborkan pesan bahwa berbagai hal akan berbeda, karena partai Demokrat berhasil mengalahkan George W.Bush. Tapi pada akhirnya ditegaskan, bahwa musuh barat tidak membedakan perubahan kecil politik semacam itu. Barang siapa mempercayai, bahwa Obama dengan kualitasnya yang menghasilkan anugerah Nobel Perdamaian, dapat meredam terorisme dan membuatnya kebal terhadap serangan teror, mereka itu akan terkecoh.

Harian Italia La Stampa yang terbit di Turin berkomentar : Ketakutan berlebihan yang melumpuhkan Amerika setelah serangan teror 11 September 2001, dan mendorong pemerintahan George W.Bush melakukan serangan balas dendam ke Afghanistan serta serangan preventif ke Irak yang memicu bencana, kini muncul lagi sejak Natal tahun 2009. Gambar-gambar dari percobaan serangan teror yang gagal, sidang darurat di Gedung Putih serta perubahan nada bicara presiden Obama menjadi lebih kelam, semua itu mengindikasikan atmosfir sebuah negara yang sedang ketakutan. Sebuah negara yang tidak mengetahui, apakah kini berada dalam posisi terkepung atau dalam situasi perang.

Harian konservatif Austria Die Presse yang terbit di Wina berkomentar : Dinas rahasia AS memiliki anggaran milyaran Dolar, diperbolehkan menggunakan scanner yang tembus hingga celana dalam atau lebih dari itu serta diizinkan menangkap dan menahan orang selama berhari-hari hanya berdasarkan dugaan dan kalau perlu dengan bukti informasi dinas rahasia menjebloskan orang ke penjara militer di Guantanamo selama bertahun-tahun. Tapi hanya satu hal yang tidak dapat dilakukan, menjalin komunikasi diantara mereka sendiri. Serangan teroris menggunakan pesawat terbang ke gedung World Trade Center 11 September 2001 merupakan dampak dari gagalnya komunikasi. Sekarang, CIA tahu bahwa ada teroris di Yaman, FBI tahu dilakukan pelatihan teroris di Yaman dan NSA juga memperoleh berita ganjil dari Yaman. Hanya saja, tidak ada yang meneruskan informasi yang diketahui masing-masing ke dinas-dinas rahasia lainnya.

Dan terakhir harian Austria lainnya Salzburger Nachrichten yang terbit di Salzburg berkomentar : Mengapa dinas rahasia AS gagal memperoleh informasi, yang dengan mudah dapat dicari di Google? Argumen yang menyebutkan, setelah muncul kejadian, memang amat gampang melontarkan kritik, samasekali lepas dari konteks permasalahannya. Para analis sebetulnya hanya tinggal melihat dalam bank data yang mereka kumpulkan, untuk mengenali ancaman bahaya. Presiden Obama membuka kegagalan dinas rahasia AS kepada publik. Transparansi adalah langkah pertama. Kini harus segera dilakukan tindakan lanjutannya.

AS/DK/afpd/dpa