1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Anak Miskin Perkotaan Tak Miliki Peluang

Renata Permadi29 Februari 2012

Kota-kota menawarkan peluang bagi anak-anak. Sekolah, pusat kesehatan dan kelak peluang kerja. Tetapi tawaran ini tak berlaku bagi anak-anak miskin.

https://p.dw.com/p/14BoT
Foto: picture-alliance/dpa

Air bersih, sekolah, layanan medis, infrastruktur baik dan pekerjaan kelak. Kota-kota menjanjikan peluang, kesempatan, dan masa depan. Namun  tawaran kebanyakan hanya berlaku bagi mereka yang bisa membayar. Anak-anak di kawasan kumuh dan di banyak pemukiman pinggiran kota hampir tak mendapat apa-apa, demikian laporan terbaru badan PBB untuk anak-anak, UNICEF.

"Biasanya kita melihat kemiskinan di pedesaan. Dewasa ini situasinya berubah. Kita menyaksikan wajah tersembunyi dari kemiskinan di kawasan urban. Apa yang bisa kita lakukan, kita pikirkan dan bagaimana kita menanganinya, inilah yang ingin kami usulkan dengan laporan ini," kata juru bicara UNICEF Sarah Crowe.

Kehilangan Hak

Tidak ada angka pasti, berapa banyak anak yang tumbuh di perkotaan. PBB memperkirakan, tidak lama lagi, 1 dari 2 anak. Banyak anak yang lahir dan tumbuh besar di perkotaan, tidak tercatat oleh dinas pemerintah. Dan barang siapa yang secara resmi tidak eksis, juga tidak dapat menuntut tawaran pendidikan atau kesehatan.

“Kami lihat dalam laporan ini, kota-kota membiarkan anak-anak terlantar. Kami berasumsi, kota-kota dapat memberi pelayanan bagi anak-anak mengingat infrastruktur dan segala layanan berpusat di kota. Ini bagian dari paradoks suram bahwa anak-anak tidak mendapat layanan yang mereka butuhkan, yang merupakan hak mereka, dan bahwa kemiskinan itu terjadi di tengah-tengah kita, di kota-kota besar, di kawasan urban, di seluruh dunia,“ dikatakan Sarah Crowe.

Armut in Rumänien Leben auf der Straße
Seorang anak jalanan di Bukarest, RumaniaFoto: picture-alliance / dpa/dpaweb

Keberadaan Terus Terancam

Situasi paling buruk dialami anak-anak di kawasan kumuh dan pemukiman liar, di pinggiran kota-kota besar, negara berkembang. Tingkat kematian anak di sini tinggi. Kebanyakan tak punya akses pada air bersih, sementara penyakit seperti kolera, TBC atau campak menyebar seperti epidemi. Mereka yang tinggal di pemukiman liar setiap saat bisa terusir bila bulldoser digunakan untuk melawan orang miskin. Kekerasan adalah keseharian, juga prostitusi paksa dan penganiayaan seksual.

Laporan UNICEF juga menyoroti kondisi anak-anak jalanan, fenomena perkotaan yang sampai kini mendapat sedikit perhatian. Mereka diburu aparat keamanan dan kelompok bersenjata. "Di seluruh dunia makin bertambah kelompok anak dan remaja yang dipinggirkan, diilegaliasi, yang rentan terhadap obat bius dan kriminal. Kota tidak menawarkan perspektif untuk berkembang atau bertahan pada mereka," demikian Albert Recknagel, dari organisasi bantuan internasional untuk anak, Terre des Hommes.

Di negara-negara industri maju pun, kata Recknagel, kebanyakan anak-anak kota diabaikan. "Ini menyangkut pengakuan terhadap anak dan remaja sesuai potensi mereka dan menyertakan mereka dalam pembentukan masa depan. Tidak lama lagi anak-anak yang bertanggungjawab bagi perkembangan planet ini. Karena itu mereka harus diikutkan sedini mungkin dalam diskusi dan pengambilan keputusan mengenainya.“

Kita harus memulai dari bawah, tegas juru bisara UNICEF Sarah Crowe yang menuntut keterlibatan terutama dari penghuni kawasan kumuh sendiri, dan anak-anak.

Helle Jeppesen/ Renata Permadi

Editor: Hendra Pasuhuk