1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Empat Misteri AirAsia QZ 8501

Hendra Pasuhuk7 Januari 2015

Ada beberapa pertanyaan besar yang belum terungkap dalam kasus kecelakaan AirAsia QZ8501. Pesawat tipe Airbus A320-200 itu jatuh ke laut dalam perjalanan dari Surabaya ke Singapura 28 Desember lalu.

https://p.dw.com/p/1EFa0
Foto: picture-alliance/dpa/EPA/M. Mbasan

Inilah empat "misteri" yang belum terjawab seputar jatuhnya AirAsia QZ 8501 yang membawa 162 penumpang:

1) Mengapa pesawat jatuh ke laut?

Sebelum menghilang dari radar, pilot AirAsia QZ 8501 menghubungi Air Traffic Control (ATC) dan minta ijin untuk naik ke ketinggian 32 ribu kaki (11580 meter) dari ketinggian saat itu, 32 ribu kaki (9750 meter). Tapi ketika itu ada enam pesawat lain di sekitarnya yang terbang di daerah itu. ATC lalu minta AirAsia menunggu. Namun empat menit kemudian, ketika ATC mencoba menghubungi QZ 8501, tidak ada jawaban lagi. Penemuan kotak hitam yang mencatat data-data pesawat diharapkan bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.

2) Di mana kotak hitam QZ 8501?

Cuaca buruk dan ombak yang tinggi hingga saat ini menjadi hambatan besar bagi tim pencari untuk menemukan badan pesawat di dasar laut. Sekalipun kedalaman laut di sekitar lokasi kecelakaan tidak sampai 60 meter. Hingga saat ini, belum ada sinyal "ping" dari black box yang terdeteksi tim pencari. Baterai black box biasanya mengirim sinyal sampai sekitar 20 hari sejak terjadinya kecelakaan. Setelah itu, baterai akan habis.

3) Di mana pecahan-pecahan pesawat dan sebagian besar jenazah penumpang?

Pencarian kini dilakukan tim internasional di sekitar lokasi kecelakaan. Koordinasi pencarian dilakukan oleh Badan SAR Nasional (Basarnas) dengan melibatkan tim bantuan dan peralatan dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Cina, Rusia, Korea dan Singapura. Teknologi sonar telah menemukan beberapa "potongan besar" badan pesawat. Namun karena cuaca buruk dan jarak pandang mendekati 0 meter, tim penyelam belum berhasil mencapai badan pesawat. Diduga, sebagian besar jenazah penumpang masih berada di dalam badan pesawat.

4) Apakah AirAsia QZ 8501 memiliki ijin terbang dari Surabaya ke Singapura?

Media sempat memberitakan, pilot AirAsia QZ 8501 menerbangkan pesawatnya tanpa ijin. Tapi hal itu tidak benar. Pada 28 Desember 2014 yang naas itu, pilot sudah mendapatkan ijin berangkat dari ATC Bandara Juanda, Surabaya. Namun ternyata, Kementerian Perhubungan sebenarnya sudah mengubah jadwal penerbangan AirAsia dari hari Minggu ke hari Sabtu. Masalahnya, perubahan jadwal itu tidak sampai ke pihak ATC di Bandara Juanda. Apa yang terjadi? Itulah yang saat ini sedang diselidiki Kementerian Perhubungan. Tujuh pejabat dan pegawai penerbangan sudah dinonaktifkan dan diperiksa dalam kasus ini. Yaitu, dua pejabat Kementerian Perhubungan, tiga pegawai perusahaan AirNav yang disewa untuk mengelola lalu lintas udara, dan dua pejabat PT Angkasa Pura I sebagai pengelola Bandar Udara Juanda, Surabaya.


hp/vlz (ap)