Dewasa ini di mana-mana di pelosok dunia, bahkan di sebuah negara yang terpuruk akibat perang pun, misalnya di Liberia, teknologi baru sangat diminati. Tapi, negara-negara itu tidak punya sarana dasar yang menunjang.
Seorang warga Liberia
Misalnya listrik umum yang diperlukan untuk produk-produk teknologi baru nyaris tidak eksis. Akibatnya, penggunaan produk canggih tidak hanya mahal tapi juga penuh dengan rintangan.
Puluhan warga berdesakan dan saling dorong di depan pintu masuk sebuah toko di pusat kota Monrovia. Toko itu sedang menjual telpon genggam murah. Harga sebuah ponsel termasuk servis internet hanya 25 dollar AS saja, yaitu sekitar 230. 000 rupiah. Jerry Dunn, salah seorang pembeli, menghabiskan hampir semua tabungannya untuk membeli sebuah telpon baru:
“Iya, sekarang keadaan sedikit lebih baik . Sebelumnya, harga telpon selalu sangat mahal. Tapi sekarang kita bisa membeli telpon seharga 25 dollar. Ini bagus sekali untuk kita.“
Sama seperti kebanyakan warga Liberia lainnya, telpon paling diperlukan oleh Dunn untuk meminjam uang dari seorang teman atau keluarga yang diharapkan dapat membantunya keluar dari kesulitan. Saat ini dia sedang menganggur. Jerry Dunn menceritakan, dengan telpon genggamnya dia tidak harus meninggalkan tempatnya di Broad Street Monrovia:
„Anda tahu ponsel adalah sarana untuk menghubungkan orang-orang dari jarak jauh. Satu segi positif ponsel misalnya untuk menolong melakukan sesuatu sementara saya nongkrong di sini. Saya perlu seseorang untuk menolong saya, tapi saya tidak bisa menyapa orang-orang di Broad Street begitu saja, apalagi kalau orang itu berada di seberang jembatan sana. Tapi dengan ponsel saya bisa tetap duduk di sini dan berbicara dengan orang yang saya inginkan.“
Namun ada satu masalah yang mengganjal, yakni penyediaan listrik untuk umum yang dipasok generator sumbangan-sumbangan pedonor. Mesin-mesin ini kadang-kadang rusak dan hanya memberikan aliran listrik kepada sejumlah kecil lampu-lampu di jalan dan kawasan tertentu. Hanya sedikit sekali warga yang mampu membeli generator sendiri untuk rumah atau tempat kerjanya.
Oleh sebab itu, kebanyakan pemilik telpon genggam pergi ke toko pengisian ulang baterai ponsel. Baterai ponsel kemudian diisi di tempat tersebut dengan bantuan generator sewaan. Mohamed Barry, seorang pemilik toko pengisian baterai ponsel punya banyak pelanggan. Kebanyakan dari mereka menggunakan telepon seluler untuk berkomunikasi denghan keluarga mereka yang tinggal di luar negeri, dan tentunya untuk meminta bantuan keuangan. Mohamed Berry:
“Anda tahu kan, kenapa orang-orang punya ponsel di Liberia. Setiap orang yang saya kenal, memiliki telpon genggam karena mereka mau berkomunikasi dengan orang tuanya di luar negeri. Bahkan ada di antaranya yang tidak punya uang untuk membeli ponsel. Tapi yang mereka lakukan: orang tua mereka mengirimkan uang atau ponsel agar dapat berhubungan dengan mereka. Di antara mereka terdapat mahasiswa yang tidak punya uang untuk membeli ponsel. Tapi setidaknya mereka dapat berkomunikasi dengan orang tua sehingga mereka dapat mengirimkan uang sekolah atau pun apa pun juga untuk anaknya. Semua yang terjadi di sini, dapat mereka informasikan kepada orang tua.”
Pengisian baterai yang berlangsung sekitar dua hingga tiga jam, dikenai biaya sekita 50 sen dollar AS atau sekitar 4. 500 rupiah. Jumlah uang yang cukup banyak bagi banyak orang yang harus hidup dari hanya beberapa dollar per hari. Menteri Informasi Liberia, Laurence Bropleh mengatakan, situasi ini tidak akan berubah dalam waktu dekat ini:
„Ya, kami menggunakan generator, karena bendungan pembangkit listrik tenaga air Liberia rusak sama sekali. AS telah memberikan uang guna penelitian masalahnya. Kami mendapat informasi, bendungan itu dapat diperbaiki dalam waktu empat atau lima tahun ke depan, tapi perbaikan itu menelan biaya lebih dari 400 juta dollar. Kabar yang positif adalah, bendungan itu bisa diperbaiki. Namun untuk sementara ini, generator dan turbin merupakan penyelesaian terbaik. Sinar lampu kami kecil, tapi ini memberikan harapan yang besar. Banyak anak-anak tidak pernah melihat lampu di negeri ini hampir selama 20 tahun. Sekarang pun mereka tidak punya aliran listrik di rumah, tapi mereka dapat duduk di bawah sinar lampu jalanan dan belajar di situ. Ini tanda kemajuan bagi banyak kaum muda kami.“
Karena komputer perlu listrik, maka tidak ada gunanya bagi seorang Liberia untuk memiliki komputer, jika dia tidak bekerja di salah satu dari sejumlah kecil kantor di Monrovia yang punya generator. Oleh sebab itu, mesin ketik manual dipergunakan di mana-mana di Liberia.
William Saydee, seorang pendeta, sangat sibuk karena punya tambahan kerja sebagai tukang ketik. Di sebuah banguan tua yang tidak dipakai lagi, dia duduk di depan sebuah mesin tik usang. Dia menerima pesanan untuk mengetik berbagai dokumen, juga untuk keperluan mahasiswa, surat lamaran, surat kontrak dlsbnya. William Saydee:
„Mengetik secara komersial artinya, anda yang membawa kertasdan saya mengetiknya. Saya memungut biaya 20, 30 dollar Liberia. Kalau sudah selesai, saya kumpulkan uangnya. Cukup untuk saya.“
Dia mengetik puluhan surat dan kontrak setiap harinya, kemudian pulang dengan mengantongi penghasilan yang lumayan. Penghasilannya cukup untuk membeli makanan dan menyewa rumah kecil di Monrovia. Saydee yang berusia 40 tahun, mengatakan, mesin tiknya lebih tua darinya tapi masih baik:
„Seperti yang bisa anda lihat, tipe ini sudah ada di Liberia sebelum saya lahir. Saya memilikinya sejak tahun 2000. Ketika marak-maraknya perang, bahkan pada awalnya, saya sendiri berada di hutan. Kemudian saya membeli mesin tik ini dari seseorang. Saya pikir, umur mesin tik lebih panjang dari komputer. Tetapi sekarang memang komputer adalah sarana yang moderen. Saya sendiri sudah tentu bisa komputer. Saya pernah ikut kursus komputer tapi saya sekarang belum cukup punya uang untuk membeli sebuah komputer.“
Di sebelahnya duduk Sylvester Yangbae, bekas akuntan. Dia punya beberapa mesin tik yang digunakan untuk memberikan pelajaran mengetik bagi mahsiswa yang membayar beberapa dollar per bulannya. Sylvester Yangbae:
„Oh, seperti yang anda lihat, saya punya banyak mesin tik. Saya punya merek Olympia, Olivettis dan sebagainya.”
Yangbae mengaku, lulusan kursusnya pergi mencari pekerjaan yang berkaitan dengan komputer di berbagai LSM asing. Kembali Yangbae:
“Beberapa di antaranya bekerja untuk LSM dan sebagainya. Karena, jika anda ingin bekerja dengan komputer anda harus bisa mengetik. Jika anda pernah mengetik manual, akan menjadi mudah menangani komputer.“
Dewasa ini, bagi kebanyakan warga Liberia, mesin ketik masih merupakan sesuatu yang terpercaya dan terjangkau serta lebih murah ketimbang generator, komputer maupun ponsel. (cs)