1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Suara Pers

APEC Redam Ambisi Iklim Eropa

Pertemuan APEC mengecewakan Eropa karena gagal menyepakati prakarsa guna meredam perubahan iklim. Konferensi iklim di Kopenhagen Desember mendatang sulit capai target.

Mengenai hasil pertemuan puncak APEC di Singapura, harian Italia Corriere della Sera menulis:

Bagi pemerintahan di Eropa, keputusan konferensi di Singapura merupakan pukulan berat. Terutama kesepakatan antara Amerika Serikat dan Cina yang berusaha meredam ambisi konferensi iklim di Kopenhagen. Ini membuat strategi Eropa guncang. Kanselir Jerman Angela Merkel, negara-negara di Eropa utara dan belakangan presiden Perancis Nikolas Sarkozy ingin ada kebijakan radikal untuk menanggulangi efek rumah kaca. Namun situasinya sekarang makin buruk. Inilah untuk pertama kalinya, pertemuan puncak APEC mendikte sebuah agenda internasional dan menggeser peran Uni Eropa ke pinggiran.

Harian Italia lainnya, La Stampa dalam tajuknya menilai, posisi Eropa sekarang terisolasi. Harian ini menulis:

Eropa, sebuah rumah dengan 27 penghuni, sudah mengajukan agenda yang berani. Selama perundingan, agenda ini tidak bisa diubah begitu saja. Dari Amerika Serikat juga ada sinyal-sinyal lebih baik di bawah Barack Obama, dibandingkan dengan posisi pendahulunya George W Bush. Namun Amerika Serikat tetap menghindari kewajiban dalam angka-angka konkrit. Di lain pihak, Cina tetap bersikeras menjalankan agenda pembangunan lima tahunannya. Jadi baru tahun depan Cina akan membahas posisinya terhadap perubahan iklim. Ini membuat Uni Eropa berdiri sendirian dengan semangatnya yang berani menjelang konferensi iklim.

Harian Inggris The Times menyoroti kunjungan Obama ke Cina dan menilai, kecil harapan Cina saat ini mau berkompromi. Harian ini berkomentar:

Obama datang ke Shanghai dan Beijing dengan sejumlah tema menarik yang bisa menjadi kepentingan bersama dua negara. Namun pemerintah Cina tidak akan melakukan kompromi yang signifikan. Salah satu tema penting adalah nilai tukar mata uang Cina terhadap dollar. Menurut Amerika Serikat, Cina sengaja menahan rendah nilai mata uangnya, agar barang-barang ekspor Cina jadi murah di pasar dunia. Kebijakan ini membuat ketidak seimbangan dalam perekonomian global, yang bisa menyulut krisis ekonomi. Tapi kenyataannya adalah, Cina merupakan pemberi kredit terbesar bagi Amerika Serikat. Jika Cina memperkuat nilai mata uangnya terhadap dollar, ini berarti kerugian besar. Sedangkan Amerika Serikat sedang menghadapi defisit anggaran dan utang yang besar, jadi tidak punya kemungkinan menuntut penyesuaian nilai tukar mata uang.

Harian Spanyol El Pais mengomentari kunjungan Obama ke Cina sebagai berikut:

Cina adalah etape penting dalam lawatan ke Asia. Hampir tidak ada tema global dan regional yang dapat dikelola Amerika Serikat tanpa kemitraan strategis dengan Cina. Termasuk tema penyebaran senjata nuklir, krisis ekonomi, perubahan iklim dan soal Korea Utara. Pemerintahan komunis Cina saat ini adalah pemberi kredit terbesar bagi Amerika Serikat. Hubungan antara Washington dan Beijing di masa depan akan menentukan perkembangan dunia. Dengan kunjunganya selama tiga hari ke Cina, Obama mengakui situasi baru ini. Tidak biasanya kunjungan kenegaraan dilakukan begitu lama.

HP/DK/dpa

Artikel lainnya