1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Uang dan Kebahagiaan

Memberi dan menerima syarat penggunaan uang untuk bahagia?

Resep suami istri Rosenau untuk menghadapi kekayaan yang datangnya tiba-tiba, adalah tetap berkepala dingin. Sebagian besar uang hadiah lotre, ditanamkan dalam sebuah yayasan untuk amal. Keluarga Rosenau tidak mengubah gaya hidupnya secara tiba-tiba. Bagi mereka teman-teman dan keluarga merupakan sumber kebahagiaan yang lebih besar, ketimbang uang berjuta-juta Dolar.

Di mata para peneliti kebahagiaan, tindakan dan prioritas yang dilakukan keluarga Rosenau dinilai amat tepat. Hubungan sosial yang berfungsi baik, merupakan faktor terpenting bagi kebahagiaan. Lebih banyak atau lebih sedikit uang yang dimiliki, tidak banyak berpengaruh. Namun hasil penelitian itu tidak berlaku bagi orang-orang miskin. Demikian kata Bruno Frey peneliti kebahagiaan dan ekonomi dari Universitas Zürich di Swiss.

Frey menjelaskan anomalinya : “Pada orang-orang dengan pendapatan rendah, kenaikan gaji dianggap penting dan dapat meningkatkan tingkat kepuasan pada kehidupan. Hal yang sama berlaku untuk negara-negara miskin. Jika pendapatan rata-rata naik, maka tingkat kepuasan hidup juga naik drastis. Penelitian kebahagiaan yang kami lakukan, tidak menyimpulkan bahwa orang-orang di negara berkembang lebih bahagia dan puas, dan kami tidak perlu lagi melakukan apapun. Hal sebaliknya yang justru tepat.“

Tapi, segera setelah semua kebutuhan mendasar terpenuhi, uang tidak lagi memainkan peranan menentukan bagi perasaan bahagia. Walaupun begitu, orang-orang ibaratnya selalu berburu uang dengan menghalalkan segala cara. Ibaratnya minum air laut, semakin haus jadinya – begitu pula dengan uang, semakin banyak uang yang dimiliki, semakin terasa kurang.

Penyebabnya, diduga merupakan hasil evolusi manusia selama jutaan tahun terakhir ini. Demikian diungkapkan pakar psikologi dan peneliti kebahagiaan dari Universitas Harvard, Tal Ben-Shahar : "Ini kesalahpahaman yang merupakan sifat turunan. Latar belakangnya diduga pengalaman selama ribuan tahun. Kita harus menimbun makanan agar dapat bertahan hidup. Barangsiapa paling banyak menimbun, memiliki peluang cukup baik, untuk dapat bertahan hidup di musim dingin. Dewasa ini orang-orang masih mengikuti pola semacam itu. Walaupun banyak yang tidak perlu lagi menimbun simpanan. Tapi semua orang masih berpikir, kalau saya memiliki lebih banyak lagi, maka hal itu amat penting bagi kelangsungan hidup dan kebahagiaan saya.“

Jadi sulit untuk menetapkan dengan tegas apakah uang membuat orang bahagia, karena parameternya banyak dan kaitan saling pengaruhnya amat rumit. Kebiasaan, budaya dan tata nilai kemasyarakatan juga amat menentukan nilai kebahagiaan dikaitkan dengan faktor uang.