Ging, nama lengkapnya Ging Ginanjar. Pembawaannya santai, namun tajam dalam mengungkapkan pendapat.
Bekerja di berbagai penerbitan, termasuk tabloid DeTIK, yang dibredel pemerintah bersama Tempo dan Editor. Lalu ia sempat menjadi koresponden lepas untuk radio SBS Australia di Jakarta tahun 1995 hingga 1998. Terhenti pada saat itu Ging ditangkap dalam Kongres Rakyat Indonesia yang digelar untuk secara simbolis memilih presiden alternatif selain Soeharto. Ia ditahan selama 70 hari, dan dibebaskan persis sehari sebelum Soeharto jatuh.
Ging memang sangat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pro demokrasi dan gerakan kebebasan pers semasa rezim Soeharto. Ia mendirikan dan memimpin majalah bawah tanah Independen yang diterbitkan ALiansi Jurnalis Independen (AJI). Saat di tahanan Ging diam-diam tetap menjalankan profesinya. Dari balik jeruji, ia melakukan wawancara dengan Andy Arief, tahanan politik yang baru saja ibebaskan dari penculikan dan ditahan di rutan yang sama. Hasil wawancaranya dikirim ke Australia dan disiarkan dari sana. Selepas dari penjara, ia bekerja di berbagai media seperti koran, tabloid, juga sebagai penulis lepas.
Pendidikan yang sempat dijalani oleh Ging di Akademi Seni Tari Indonesia -Bandung memang tidak ada hubungannya dengan jurnalistik. Namun hubungannya dengan dunia jurnalistik dimulai ketika foto-foto berbagai pertunjukan yang dibuatnya dimuat Pikiran Rakyat, koran terbesar JAwa Barat, sebagai ilustrasi berita atau resensi pertunjukan. Belakangan Ging pun mulai menulis sendiri resensi, kritik pertunjukan, dan laporan-laporan kebudayaan dari berbagai daerah.
Sebelum hijrah ke Deutsche Welle, Ging bekerja di Kantor Berita Radio 68H di lingkungan komunitas Utan Kayu.
Tepatnya pada tanggal 30 September 2005, Ging resmi bergabung dengan Redaksi IndonesiaDeutsche Welle . Sejak bergabung, tugas yang sempat ditangani Ging meliputi antara lain Forum Pendapat, Liputan Khusus, Jendela Budaya, Indonesia Plus Minus, dan juga pekerjaan rutin harian lainnya.