1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

140408 Dialog Islamlehrer

Klaus Fuhrmann16 April 2008

Sekolah-sekolah di Jerman sekarang bisa memasukkan mata pelajaran pengenalan tentang Islam di kurikulumnya. Di kota Freiburg, mata pelajaran ini sudah dilaksanakan sejak dua tahun.

https://p.dw.com/p/Dhi2
Pelajaran pengenalan Islam di satu sekolah di JermanFoto: AP

Sebagian warga Jerman khawatir, mata pelajaran tentang Islam di sekolah-sekolah dasar negeri akan memberi kesempatan bagi kelompok fundamentalis memperluas pengaruhnya. Namun banyak juga yang setuju dengan gagasan ini, karena menilai bahwa hal ini justru bisa memuluskan integrasi kelompok migran yang berlatar belakang Islam.

Di negara bagian Baden Württemberg di selatan Jerman, proyek ini sudah dimulai dua tahun lalu. Proyek mata pelajaran pengenalan Islam ini diikuti oleh 12 sekolah dasar. Salah satu sekolah dasar yang ikut adalah sekolah dasar Adolf-Reichwein di kota Freiburg.

Di kelas satu di sekolah dasar Adolf-Reichwein Freiburg ada sekitar 15 anak sekolah dari keluarga Islam yang mengikuti mata pelajaran pengenalan tentang Islam. Mereka berasal dari 9 negara. Mereka belajar menyanyikan lagu Islam dalam bahasa Jerman. Setelah itu, guru mata pelajaran Islam, Jörg Imran Schröter, menceritakan sejarah kehidupan Nabi Muhammad. Jörg Imran Schröter adalah warga Jerman yang masuk Islam tahun 1989.

Mengenai mata pelajaran pengenalan Islam untuk kelas sekolah dasar, Jörg Imran Schröter mengatakan, "Tujuan yang pertama adalah, agar anak-anak mengenal sekilas sejarah Islam dalam bahasa Jerman. Itu adalah pelajaran dasarnya. Bagaimana sosok Allah dicitrakan menurut ajaran Islam, siapa Nabi Muhammad. Dan tentu saja tentang ajaran-ajaran pokok dalam agama Islam dan kewajiban-kewajiban utama bagi pemeluknya. Di sini semua dibicarakan dalam bentuk diskusi. Anak-anak ini datang dari berbagai latar belakang budaya.”

Proyek di Baden-Württemberg ini adalah proyek percontohan yang akan digunakan sebagai model pelajaran pengenalan tentang Islam. Agenda mata pelajaran ini ditetapkan oleh Kementerian Kebudayaan negara bagian Baden Württemberg. Tapi sampai sekarang memang belum ada buku panduan untuk mata pelajaran ini. Bagi para tenaga pengajar di SD Adolf-Reichwein di kota Freiburg, bergaul dengan seorang kolega yang beragama Islam juga adalah hal baru.

Jörg Imran Schröter masih ingat bagaimana ia memulai kegiatannya sebagai tenaga pengajar di sekolah ini. "Waktu saya datang ke sekolah ini, mungkin rekan-rekan guru yang lain sudah berpikir, wah akan ada guru baru untuk pelajaran Islam yang masuk ke sini. Dan ini orang Jerman yang masuk Islam. Mereka awalnya tentu punya kekhawatiran atau juga kesulitan untuk menjalin kontak.”

Menurut Schröter, prasangka beberapa rekannya baru terhapus sedikit demi sedikit setelah ia mengundang mereka berkunjung ke mesjid dan berbicara secara terbuka mengenai agama Islam. Schröter menjelaskan, bagi guru-guru agama Islam di sekolah-sekolah lain juga awalnya sulit memulai mata pelajaran ini yang memang sempat jadi debat publik.

Prasangka tidak hanya muncul di kalangan warga Jerman. Juga para orang tua murid yang beragama Islam, tadinya khawatir mata pelajaran baru ini hanya sebuah agenda terselubung untuk kristenisasi.

Kebanyakan orang tua juga tidak menguasai Bahasa Jerman secara memadai. Bagi Jörg Schröter, penguasaan Bahasa Jerman adalah salah satu faktor penting untuk integrasi. Itu sebabnya ia menganggap penting, bahwa pelajaran pengenalan Islam dilakukan dalam Bahasa Jerman. Sebab dengan menggunakan Bahasa Jerman, anak-anak migran yang berasal dari berbagai negara bisa lebih saling memahami.

“Penggunaan Bahasa Jerman sangat penting. Karena dengan demikian, pelajaran ini tidak hanya bisa diikuti oleh mereka yang berbahasa Arab atau Turki. Selain itu, anak-anak ini sekaligus belajar Bahasa Jerman dan berbicara tentang agama mereka dalam Bahasa Jerman. Ini akan memberi mereka kemampuan, untuk menerangkan agamanya kepada orang lain dalam Bahasa Jerman. Semua ini sangat penting untuk integrasi anak-anak ini dalam masyarakat Jerman.”

Syarat untuk menjadi guru mata pelajaran pengenalan Islam adalah kemampuan mengajar dalam Bahasa Jerman. Syarat ini memang membatasi kemungkinan merekrut guru untuk bidang ini. “Untuk awal proyek percontohan ini, direkrut tenaga pengajar yang sudah bekerja sebagai guru dan beragama Islam. Jadi mereka memang punya pendidikan sebagai tenaga pengajar. Lalu untuk mengajar tentang Islam, mereka mendapat pelatihan tambahan,” demikian Jörg Imran Schröter.

Ia sendiri menyelesaikan studi dalam bidang pedagogi dan bidang ilmu agama Islam. Sekarang ia juga menjadi dosen di Sekolah Tinggi Pedagogi di Karlsruhe dan mendidik calon-calon tenaga pengajar baru. Ia mengatakan, permintaan untuk guru tentang Islam akan terus bertambah. Tapi memang jalan masih panjang, sampai mata pelajaran pengenalan tentang Islam menjadi bagian dari kurikulum reguler di semua sekolah di Jerman. Setelah debat bertahun-tahun tentang ini, Jörg Schröter mengaku senang, akhirnya mata pelajaran tentang Islam bisa dimasukkan dalam kurikulum sekolah.