1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pakistan Marah Proses Perdamaian Afghanistan Terancam

30 November 2011

Pakistan bereaksi atas serangan udara NATO: mereka memboikot konferensi Afghanistan yang akan digelar di Bonn, Jerman. Masalahnya, tanpa dukungan Pakistan, sulit mencapai perdamaian dan stabilitas di Afghanistan

https://p.dw.com/p/13JUg
Tanpa lampu hijau Pakistan, sulit mengajak Taliban ke meja perundinganFoto: DW

"Hidup tentara Pakistan” dan “Siapapun yang menjadi sahabat Amerika adalah pengkhianat”, begitu mereka nyanyikan dengan keras. Para laki-laki yang mengenakan dasi dan jas hitam itu adalah anggota gerakan pengacara yang beberapa tahun lalu dengan berani menentang rejim Pervez Musharraf. Kini kemarahan mereka tertuju langsung kepada Amerika. Setelah serangan udara NATO akhir pekan lalu, mereka turun ke jalan di kota Lahore. "Kami ada di negara bebas. Kami akan mengorganisir gerakan pengacara di seluruh negeri, untuk memprotes, menentang siapapun yang menyerang kedaulatan kami“ demikian kata salah seorang pengacara yang turun ke jalan.

Pada hari Sabtu (26/11) dinihari, helikopter serta jet tempur NATO menembak dua pos militer Pakistan, dan menewaskan 24 tentara. Insiden ini terjadi di daerah suku yang dekat dengan perbatasan Afghanistan. Tempat di mana anggota Al-Qaeda dan Taliban bersembunyi.

NATO dan Gedung Putih telah meminta maaf dan menyebut serangan udara itu sebagai insiden yang tragis dan tidak disengaja. Para pejabat militer, politisi serta masyarakat Pakistan sangat marah. Di satu sisi, ini bukanlah kesalahan serius pertama yang dilakukan pasukan NATO di perbatasan. Hal lain, Pakistan sebelumnya marah dengan operasi militer Amerika yang memasuki wilayah Pakistan tanpa ijin untuk membunuh Osama bin Laden.

Bagaimanapun, jalur suplai untuk pasukan barat di Afghanistan yang melewati wilayah Pakistan, telah ditutup, segera setelah insiden serangan udara NATO. Juru bicara militer Pakistan, Abbas Attar, hari Senin (28/11) mengatakan "Ini sangat serius. Ini akan punya konsekuensi.Seperti anda tahu, lebih dari empat ribu perwira dan tentara hilang dalam usaha untuk membersihkan daerah-daerah itu. Setelah semua usaha dan pengorbanan itu dilakukan, kini hasilnya adalah frustasi yang besar, kemarahan dan kepahitan“

Bagi konferensi Afghanistan yang akan digelar mulai Senin (5/12) depan di Bonn-Jerman, penolakan Pakistan untuk hadir adalah sebuah pukulan berat. Hal ini menjadi kontroversi karena tanpa bantuan aktif dari negara tetangganya yakni Pakistan, maka perdamaian di Afghanistan menjadi sesuatu yang mustahil. Perundingan dengan Taliban untuk mencari penyelesaian masalah Afghanistan, hanya akan terjadi jika Pakistan membuka jalan. Penasihat keamanan Presiden Afghanistan, Rangin Dadfar Spanta mengatakan "Tanpa lampu hijau dari intelijen dan militer Pakistan, tak mungkin ada negosiasi damai dengan Taliban“

Andy Budiman

Editor: Hendra Pasuhuk