1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Buah Apel: Viagra Perempuan

11 Juli 2014

Apel membuat tubuh sehat, itu sudah jadi rahasia umum. Tapi studi yang baru diterbitkan Archives of Gynecology and Obstetrics menunjukkan apel juga berkhasiat untuk meningkatkan fungsi seksual perempuan.

https://p.dw.com/p/1CZN7
Foto: Fotolia/Kurhan

Peneliti menganalisa 731 perempuan Italia yang aktif secara seksual. Mereka berusia antara 18-43 tahun dan tidak memiliki riwayat ataupun keluhan gangguan seksual.

Peserta kemudian dibagi menjadi dua kelompok: Kelompok pertama (A) mengkonsumsi rutin buah apel (yakni 1-2 apel sehari), sementara kelompok kedua (B) tidak mengkonsumsi apel atau sangat sedikit mengkonsumsi (0-0,5 apel per hari). Penelitian dilakukan dari bulan September 2011 hingga April 2012.

Peningkatan fungsi seksual

Para responden itu kemudian mengisi daftar Indeks Fungsi Seksual Perempuan (FSFI) secara anonim. Daftar dalam FSFI itu yang terdiri dari 19 pertanyaan tentang fungsi seksual, frekuensi seksual, orgasme, pelumasan dan kepuasan seksual secara keseluruhan.

Para peneliti menemukan bahwa "pengkonsumsian apel sehari-hari terkait dengan skor FSFI yang lebih tinggi pada pasien yang aktif secara seksual, sehingga meningkatkan fungsi seksual secara keseluruhan."

Mengapa apel?

Para peneliti berhipotesa, apel dapat meningkatkan fungsi seksual karena --- seperti anggur merah --- buah itu mengandung polifenol dan antioksidan yang dapat merangsang aliran darah ke alat kelamin dan vagina, sehingga membantu meningkatkan gairah seksual.

Tidak hanya itu, peneliti mengatakan apel mengandung phloridzin, sebuah phytoestrogen umum yang strukturnya mirip dengan estradiol atau hormon seks perempuan. Estradiol ini memainkan peran amat besar dalam pelumasan vagina dan seksualitas perempuan. Dari studi itu disimpulkan bahwa mereka yang makan antara satu dan dua buah apel sehari memiliki fungsi atau kehidupan seks yang lebih baik.

Tentu saja, penelitian ini memiliki keterbatasan. Ini adalah ukuran sampel yang relatif kecil dan sulit untuk memisahkan korelasi sebab-akibat. Namun, para peneliti mencatat, paling tidak hasilnya cukup "menarik".

ap/vlz (NCBI)