1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Biomarker Pendeteksi Dini Gejala Depresi

20 Februari 2014

Depresi membuat Eropa merugi milyaran Euro. Di masa depan kerugian akibat depresi bisa ditekan, sebab kini para ilmuwan telah bisa mendeteksi depresi sejak dini.

https://p.dw.com/p/1BCJg
Foto: hikrcn/Fotolia

Ilmuwan otak di Inggris mengklaim telah berhasil mengidentifikasi “biomarker“ atau penanda biologis pada depresi klinis yang dapat digunakan untuk mendeteksi resiko penyakit mental terutama pada anak laki-laki. Hasil temuan studi tersebut dimuat di jurnal ilmu pengetahuan Amerika Serikat, PNAS.

Studi para ilmuwan tersebut juga menemukan bahwa remaja laki-laki yang mempunyai ciri kombinasi gejala depresi dan cortisol atau level hormon stress yang tinggi- mempunyai kemungkinan hingga 14 kali lipat lebih tinggi untuk terkena depresi berat daripada mereka yang tidak mempunyai ciri-ciri tersebut.

Hasil penemuan tersebut mengindikasikan bahwa di masa mendatang tanda-tanda depresi pada remaja laki-laki bisa diketahui lewat sebuah tes atau “screening”. Remaja yang dinyatakan punya resiko paling tinggi terkena depresi bisa dibantu dengan cara memberikan mereka pelatihan pengembangan strategi penanggulangan depresi dan kebugaran otak untuk membantu mereka menghindari depresi.

Depresi merugikan banyak orang

“Kita paling tak bisa mengurus kesehatan mental kita sendiri dan sekarang masalah-masalah kesehatan mental sudah sangat umum terjadi,“ kata Barbara Sahakian, profesor neuropsikologi Universitas Cambridge.“Depresi adalah salah satu dari beban terbesar dunia – masalah ini lebih besar daripada penyakit jantung atau kanker dan juga jauh lebih mahal.“

Depresi mempengaruhi sekitar 350 juta orang di seluruh dunia. Depresi bisa merusak hidup pasien selama bertahun-tahun, mempengaruhi pekerjaan dan kemampuan produktivitas mereka. Depresi ini juga bisa membuat orang melakukan bunuh diri yang telah menjadi penyebab jutaan kematian setiap tahun. Menurut organisasi kesehatan dunia WHO, program-program pencegahan seperti misalnya peningkatan kemampuan kognitif, pemecahan masalah dan peningkatan kemampuan sosial pada anak-anak, terbukti bisa mengurangi depresi.

Faktor-faktor yang dianggap bisa mempengaruhi perkembangan depresi seseorang adalah gen, zat kimia otak dan gaya hidup serta pendidikan. Sedangkan yang menjadi pemicu utama depresi adalah peristiwa hidup tragis, penyakit medis dan penyalahgunaan alkohol.

Bagaimana studi tersebut dilakukan

Untuk keperluan studi ini, bersama timnya, Ian Goodyer yang berprofesi sebagai seorang psikiater melakukan pengukuran tingkat cortisol pada air liur remaja. Pengukuran pertama dilakukan pada 660 orang remaja dan pengukuran kedua dilakukan pada 1.198 orang remaja. Para ilmuwan mengambil contoh air liur para remaja di kelompok pertama selama empat hari dalam seminggu saat pagi hari. Pengambilan ini diulangi lagi 12 bulan kemudian. Sedangkapan pada kelompok kedua, pengambilan contoh air liur dilakukan lebih dari tiga hari dalam seminggu juga pada saat pagi hari.

Para remaja tersebut kemudian diminta untuk membuat laporan pribadi terkait gejala depresi, seperti perasaan sedih atau cemas- yang mereka alami selama 12 bulan. Laporan ini kemudian digabungkan dengan laporan hasil pengambilan sample cortisol mereka. Para peneliti kemudian membagi para remaja tersebut ke dalam empat kelompok. Di kelompok pertama adalah para remaja yang punya tingkat cortisol normal dan tingkat depresi yang rendah. Dan di kelompok empat adalah para remaja yang punya tingkat cortisol dan depresi yang tinggi.

Setelah melakukan penelusuran selama tiga tahun, para peneliti ini menemukan bahwa mereka yang berada pada kelompok empat rata-rata punya kemungkinan sampai tujuh kali lipat untuk terkena depresi klinis jika dibanding dengan para remaja di kelompok 1 dan dua sampai tiga kali lipat jika dibanding dengan para remaja di kelompok dua dan tiga.

Mengomentari hasil temuan tersebut, Oliver Howes yang bekerja di institut penyakit mental Universitas King´s College London mengatakan, “Depresi sangat mahal bagi masyarakat”. Mengutip hasil laporan sekolah tinggi Eropa untuk tahun 2011, ia menyatakan bahwa gangguan jiwa membuat uni Eropa harus mengeluarkan 110 milyar Euro setiap tahun. Karena itu, ia berpendapat studi ini merupakan tonggak penting. Dengan ditemukannya cara-cara untuk mengidentifikasi depresi sedini mungkin, mereka yang rentan depresi bisa segera mendapat penanganan sehingga beban keuangan yang harus dikeluarkan juga bisa dikurangi.


asb/pasuhuk (rtr,ap)