1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

AS Bantu Pemberontak Suriah

14 Juni 2013

Amerika Serikat menyatakan akan memberikan bantuan persenjataan kepada pemberontak Suriah. Menurut Gedung Putih, rejim Assad telah menggunakan senjata kimia.

https://p.dw.com/p/18pKz
Pemberontak Suriah di Aleppo
Pemberontak Suriah di AleppoFoto: Reuters

Pemerintahan Obama sebelumnya sudah beberapa kali menegaskan, penggunaan senjata kimia dalam konflik Suriah merupakan garis merah dan akan memancing reaksi keras Amerika Serikat.

„Lembaga-lembaga dinas rahasia kami menilai bahwa rejim Assad telah menggunakan senjata kimia, termasuk gas beracun sarin, dalam skala kecil beberapa kali terhadap kelompok oposisi“, kata Ben Rhodes, Deputi Penasehat Keamanan Nasional kepada wartawan. Ia menambahkan, penggunaan senjata kimia telah mengubah perhitungan strategi Presiden Obama.

Sekretaris Jendral NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan kepada wartawan di Brussel, klaim dari Gedung Putih itu adalah perkembangan yang sangat mencemaskan. Ia menegaskan, penggunaan senjata kimia dalam segala bentuk „sama sekali tidak dapat diterima dan merupakan pelanggaran jelas hukum internasional.“ Rasmussen menyatakan sangat penting bagi Suriah untuk mengijinkan tim PBB melakukan investigasi tentang penggunaan senjata kimia.

Hari Kamis (13/06) PBB mengumumkan bahwa perang Suriah sudah menewaskan sedikitnya 93.000 orang sejak konflik di negara itu pecah tahun 2011. Menurut PBB, jumlah korban tewas bertambah secara drastis dalam satu tahun terakhir. Sejak Juli 2012, rata-rata korban tewas dalam satu bulan 5.000 orang. Tahun 2011, jumlah korban tewas per bulan sekitar 1.000 orang.

Bantuan Militer

Dalam beberapa waktu terakhir, kubu pemberontak mengalami tekanan berat, misalnya dengan jatuhnya kota strategis Qusair ke tangan pasukan pemerintah. Para pejuang dari milisi Hezbollah yang mendapat dukungan dari Iran dilaporkan membantu pasukan rejim Suriah.

Melihat perkembangan ini, Ben Rhodes menerangkan bahwa Presiden Obama memutuskan untuk meningkatkan bantuan militer terhadap kelompok oposisi. Menurut harian New York Times, bantuan militer itu bisa meliputi senjata anti tank dan akan dikoordinasi oleh dinas rahasia CIA.

Presiden AS Barack Obama mengalami tekanan di dalam dan luar negeri untuk melakukan intervensi ke Suriah. Gedung Putih melakukan serangkaian rapat internal khusus hari Kamis (13/06) sebelum memutuskan untuk memberi bantuan militer kepada oposisi di Suriah. Penggunaan senjata kimia oleh rejim Assad dilaporkan menewaskan 100 sampai 150 orang.

Kelompok oposisi Koalisi Nasional menyatakan menyambut dukungan dari Amerika Serikat termasuk bantuan militer secara langsung. Bantuan ini akan menjadi faktor penting dan menentukan dalam upaya mengakhiri kekerasan dan melakukan transisi politik, demikian disebutkan.

Ancaman Baru

Setelah menang di Qusair, pasukan Assad dan Hezbollah kini bergerak menuju Aleppo dan membombardir kota Homs. Beberapa bulan lalu, banyak yang menduga situasi Assad makin terdesak. Namun dengan bantuan dari Iran dan Hezbollah, pasukan pemerintah kini berada di atas angin. Banyak Negara yang ingin membantu kubu pemberontak, namun khawatir bantuan ini jatuh ke tangan kelompok Islamis yang loyal kepada jaringan terror Al Qaida.

Obama memang bersikap jauh lebih hati-hati daripada Inggris dan Perancis, yang bulan ini mendesak Uni Eropa untuk mencabut embargo senjata terhadap kelompok pemberontak di Suriah. Dalam pertemuan G-8 di Irlandia minggu depan, Obama akan membahas situasi di Suriah dengan para pimpinan negara industri lainnya.

hp/ab (rtr, afp, dpa)