1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

Pers Jerman Sorot Pilpres Indonesia

Hendra Pasuhuk9 Juli 2014

Bagaimana sorotan pers Jerman tentang pemilihan presiden di Indonesia? Media Jerman menyebut pilpres sebagai pertarungan untuk menentukan arah masa depan demokrasi ketiga terbesar dunia.

https://p.dw.com/p/1CYgM
Foto: picture-alliance/dpa

Frankfurter Allgemeine Zeitung (FAZ):

Indonesia di Persimpangan Jalan

16 Tahun setelah jatuhnya penguasa Suharto, negara demokrasi di Asia Tenggara ini - bukan hanya salah satu yang termuda, melainkan juga demokrasi ketiga terbesar dunia - sedang menentukan arah. Apakah ia akan meneruskan "Reformasi" atau melangkah mundur menuju otokrasi. 187 juta pemilih akan memilih antara pendatang baru gubernur Jakarta Joko Widodo dan mantan jenderal Prabowo Subianto. Para analis melihat calon yang satu sebagai pembawa harapan untuk Indonesia yang pluralistis dan bersih, calon yang lain sebagai potensi ancaman bagi demokrasi. Pelaksanaan pemilu presiden adalah sebuah tantangan logistik. Di tempat-tempat paling terpencil, kotak suara harus dibawa dengan kuda, sepeda motor, sepeda, dengan perahu motor atau dengan berjalan kaki ke seluruhnya 480.000 tempat pemungutan suara. Sekalipun logistik yang sulit ini, Komisi Pemilihan Umum akan mengumumkan hasil sementara perhitungan cepat pada malam harinya. Hasil resmi akan diumumkan 22 Juli mendatang.

Die Tageszeitung (taz):

Mantan Jendral Berhadapan Dengan Pilihan Rakyat

Kedua kandidat presiden mewakili dua agenda yang bertolak belakang. Jokowi adalah contoh, bagaimana Indonesia telah berubah sejak berakhirnya pemerintahan diktator Suharto akhir tahun 90-an. Ia meniti karir dari bawah sebagai pengusaha mebel dan terpilih sebagai walikota Solo tahun 2005. Ia menjadi terkenal di seluruh negeri karena caranya yang transparan dan neraca suksesnya. 2012 ia dipilih oleh penduduk Jakarta sebagai gubernur di ibukota. Ia mengurusi masalah sehari-hari mereka dari soal sampah sampai pelayanan kesehatan dan berbicara langsung dengan penduduk. Ia dianggap jujur dan tidak korup. Tapi dibandingkan dengan Prabowo, kampanye yang dilancarkan Jokowi terlihat tidak profesional. Sedangkan Prabowo didukung oleh beberapa jaringan televisi terbesar di negara itu. Ia memiliki kawan-kawan yang berpengaruh, dan baru.baru ini mengumumkan kekayaannya sekitar 150 juta dolar. Pada intinya, kampanye pemilu Prabowo menampilkan visinya tentang Indonesia yang kuat. Dalam pidato-pidatonya ia sering meneriakkan bahwa perusahaan-perusahaan asing merampok kekayaan alam Indonesia. Apakah Indonesia, yang sepeninggal Suharto berkembang menjadi demokrasi yang dinamis, di bawah Prabowo tetap akan demokratis, masih tanda tanya. Masa lalu Prabowo tidak memberi kesan baik. Akhir tahun 90-an, sebagai jendral yang memimpin pasukan khusus militer, ia dituduh memerintahkan penculikan, penyiksaan dan mungkin juga pembunuhan beberapa aktivis demokrasi. Prabowo sering mengelak jika ditanya tentang masa lalunya. Dalam debat di televisi ia mengatakan, ia telah melakukan kewajibannya sebagai prajurit.

Süddeutsche Zeitung (SZ):

Baju Kotak-Kotak dan Tangan Besi

(Jokowi) naik cepat bagai komet, sebagian pengamat menilainya sebagai sensasi di panggung politik Indonesia. Ciri khasnya adalah baju kotak-kotak, yang ia ganti dengan stelan jas warna gelap ketika muncul dalam debat televisi menghadapi Prabowo. Jokowi adalah pengusaha menengah yang memproduksi mebel, sebelum para kenalan mendesaknya untuk mencalonkan diri sebagai walikota di Solo. Ketika berbisnis, ia juga pernah menghadiri pameran dagang di Jerman. Sebagai walikota, ia dianggap sebagai manajer yang berhasil, yang tidak hanya mengeluh kalau ada masalah, melainkan langsung menanganinya. Ia kemudian menjadi gubernur di Jakarta. Sekarang ia bisa naik ke jenjang paling tinggi. Tapi rivalnya adalah seorang yang berkemauan keras dan cerdik, yang telah mempersiapkan diri menuju ke kursi puncak jauh lebih lama dibanding Jokowi: Prabowo Subianto, mantan jendral dan menantu diktator Suharto. Kampanye pemilunya terorganisasi dengan baik, dan ia tidak kekurangan sponsor. Banyak kekuatan berpengaruh berkumpul di belakangnya. Ia bisa menggunakan jaringan yang mencapai sampai ke provinsi paling jauh. Banyak orang melihat Jokowi sebagai ancaman bagi bisnis mereka, yang lain menganggapnya cukup terhormat, namun tidak percaya ia mampu maju ke panggung nasional. Prabowo menarik keuntungan dari citranya sebagai orang kuat. Sebagai mantan jendral, ia dianggap mewakili kepemimpinan yang tegas. Banyak orang merindukan itu, setelah mereka kecewa dengan politik ragu-ragu yang dijalankan presiden saat ini, Susilo Bambang Yudhoyono.

Handelsblatt (harian ekonomi):

Widodo Bangkitkan Harapan Ekonomi

Yudhoyono meninggalkan sebuah negara dengan berbagai masalah. Selama bertahun-tahun, politik mengandalkan ekspor bahan mentah. Tapi ketika boom itu berakhir, pertumbuhan ekonomi turun sampai tingkat terendah dalam lima tahun terakhir. Perusahaan mengeluh tentang korupsi, biaya transportasi tinggi, masa tunggu panjang di pelabuhan dan kurangnya pekerja yang berkualifikasi. Widodo memberi harapan untuk sebuah awal baru. Menjadi gubernur Jakarta sejak 2012, ia tampil sebagai pekerja keras dan reformis yang pragmatis, yang mampu mendorong proyek-proyek infrastruktur. Mantan jendral Prabowo sampai akhir masa kekuasaan Suharto adalah salah satu petinggi militer paling berkuasa. Prabowo mendapat dukungan populer dengan slogan-slogan anti investor asing. Ia menuduh perusahaan asing secara ilegal mengeruk sumber daya alam negaranya. Kedua politisi selama kampanye berjanji memerangi korupsi, membangun infrastruktur dan meningkatkan pendidikan demi pertumbuhan ekonomi.